Tampilkan postingan dengan label Akhlak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Akhlak. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Desember 2011

Membasahi Lisan, Menyejukkan Hati

Kedamaian hati adalah dambaan setiap jiwa. Ketika hati seseorang terasa tenang dan tentram, maka jiwanya terasa ingin terbang jauh ke angkasa melintasi awan putih, lalu rebah di atasnya dengan penuh rasa bahagia. Dadanya terasa lega dan longgar tanpa ada beban sama sekali. Alangkah bahagianya si pemilik hati yang tentram dan damai.

Namun kedamaian hati itu bukanlah menghambur-hamburkan uang, mencari ketenangan di tempat-tempat wisata yang terkenal, bar-bar, discotik, mall, dan hotel-hotel yang berbintang. Bukanlah kedamaian itu dengan bersenandung, melantunkan lagu yang bernuansa romantis atau pula mengingat para artis, bintang sepak bola dan para pelawak yang kerjanya Cuma ngelaba di depan lensa cembung.

Betapa banyak selebritis-selebritis dunia yang mengakhiri hidupnya dengan cara yang tragis, yaitu membunuh dirinya sendiri. Padahal bersamaan dengan hal itu, mereka memiliki kekuasaan, ketenaran dan harta yang melimpah. Namun semua itu tidak dapat memberi kebahagiaan bagi jiwa mereka. Hati mereka meronta ingin lepas dari belenggu –belenggu kehidupan yang fana dan jiwanya terasa kering kerontang tanpa ada setetes embun keimanan yang menyiraminya. Mereka merasa hampa di tengah ramainya kerumunan para penggemarnya. Hal ini disebabkan karena tebalnya dosa yang telah menyelimuti hati. Sebagaimana firman Allah -Azza wa Jalla- ,

"Sekali-kali tidak (demikian), Sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka". (QS. Al-Muthoffifin: 14 ).

Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-,

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيْئَةً نُكْتَتْ فِيْ قَلْبِهِ نُكْتَةً سَوْدَاءَ, فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيْدَ فِيْهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ

"Sesungguhnya seorang hamba jika melakukan suatu dosa, maka dosa itu menjadi titik hitam di dalam hatinya. Jika dia bertaubat dan mencabut serta berpaling (dari perbuatannya) maka mengkilaplah hatinya. Jika ia mengulanginya, maka titik hitam itupun bertambah hingga memenuhi hatinya." [HR. At-Tirmidzi dalam Sunan-nya (3334), dan Ibnu Majah Sunan-nya (4244). Hadits ini di-hasan-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Shohih At-Targhib (1620)]

Allah Yang Maha Penyayang telah memberikan solusi kepada para hamba-Nya untuk membersihkan noda-noda maksiat yang menutupi hati mereka, sehingga hati mereka menjadi suci dan tenang. Kesucian dan kedamaian hati itu akan didapatkan dengan ber-dzikir (ingat) kepada Allah -Subhanahu wa Ta’la-, baik dengan lisan, hati, dan anggota badan.

Dengan cara inilah seseorang akan merasakan manisnya iman, kebahagiaan hidup dan kedamaian yang tiada taranya. Dimana kedamaian tersebut akan menjadi istana yang megah di dalam hatinya saat suka maupun duka, senang maupun susah, resah dan gelisah; hatinya senantiasa tertambatkan hanya untuk mengingat Allah -Subhanahu wa Ta’la- dan lisannya selalu basah melantunkan lafazh-lafazh yang mulia dengan penuh rasa harap dan takut hanya kepada-Nya. Allah -Subhanahu wa Ta’la- berfirman,

“(Yaitu) orang -orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah .Ingatlah, Hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” ((QS. Ar-Ra’d:28 ).

Dengan senantiasa ber-dzikir (ingat) kepada Allah, maka ketentraman hati, keutamaan dan pahala yang besar telah menanti di depan mata. Inilah amalan yang banyak dilalaikan oleh kebanyakan manusia pada hari ini. Mereka telah disibukkan oleh dunia, pekerjaan dan keluarganya. Padahal amalan ini sangat ringan di lidah namun memiliki keutamaan yang luar biasa.

Allah –Ta’ala- berfirman,

“L aki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (mengingat) Allah, Allah Telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” ( QS. Al-Ahzab: 35)

Rasulullah -Sholllallahu alaihi wa sallam- bersabda,

كَلِمَتَانِ خَفِيْفَتَانِ عَلَى اْللِسَانِ ، ثَقِيْلَتَانِ فِيْ المِيْزَانِ ، حَبِيْبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ : سُبْحَانَ اللهِ وَ بِحَمْدِهِ ، سُبْحَانَ اللهِ اْلعَظِيْم

“Ada dua kalimat yang ringan bagi lisan, tapi berat dalam timbangan, dan dicintai oleh Ar- Rahman (Allah), yaitu subhanallahu wa bihamdihi dan subhanallahil ‘adzhim.”[HR. Al-Bukhari (6404 dan Muslim (6786)].

Rasulullah -Sholllallahu alaihi wa sallam- juga bersabda,

أَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرِ أَعْمَالِكُمْ وَ أَزْكَاهَا عِنْدَ مََلِيْكِكُمْ وَ أَرْفَعِهَا فِيْ دَرَجَاتِكُمْ وَ خَيْرٍ لَكُمْ مِنْ إِنْفَاقِ اْلذَّهَبِ وَ اْلفِضَّةِ وَ خَيْرٍ لَكُمْ مِنْ أَنْ تَلْقَوْا عَدُوَّكُمْ فَتَضْرِبُوْا أَعْنَاقَهُمْ وَ يَضْرِبُوْا أَعْنَاقَكُمْ؟ قَالُوْا : بَلَى . قَالَ: ذِكْرُ اللهِ تَعَالَى .

“Maukah kalian aku tunjukkan pada suatu amalan, yang paling baik dan paling suci di sisi Pemilik kalian (yakni, Allah), paling tinggi dalam mengangkat derajat kalian dan lebih baik bagi kalian daripada menginfakkan emas dan perak, serta lebih baik bagi kalian daripada kalian bertemu dengan musuh kalian, lalu kalian memenggal leher-leher mereka dan mereka memenggal leher-leher kalian???” Para sahabat menjawab, ”Tentu, wahai Rasulullah!” Beliau -Shallallahu ‘ Alaih Wa Sallam- bersabda, “(Amalan itu adalah) dzikir kepada Allah.” [HR. At-Tirmidzi (3377) dan Ibnu majah (3790) dan di-shohih-kan oleh syaikh Albaniy dalam Shohihul Jami’ (no. 2629)]

Dikatakan kepada Abu Darda’ -radhiyallahu anhu-, ”Seorang lelaki telah membebaskan seratus budak.” Beliau -radhiyallahu anhu- mengomentari, ”Seratus budak dari harta seseorang adalah sesuatu yang banyak. Yang lebih utama dari itu adalah keimanan yang senantiasa ada di malam dan siang hari, dan lisan salah seorang diantara kalian yang senantiasa basah karena berdzikir (mengingat) Allah -Azza wa Jalla-”.

Ibnu Mas’ud-radhiyallahu anhu- berkata, ”Aku bertasbih menyucikan Allah -Azza wa Jalla- beberapa kali lebih aku sukai daripada aku menginfakkan dinar sejumlah itu di jalan Allah”.

Salman Al-Farisi-radhiyallahu anhu- pernah ditanya, ”Amal apakah yang paling Afdhal?” Beliau -radhiyallahu anhu- menjawab, ”Tidakkah engkau membaca Al-Qur’an:

“Dan sesungguhnya dzikrullah (mengingat Allah) adalah lebih besar” (QS. Al-Ankabut: 45) . [Lihat Fiqhul Ad’iyah wal Adzkar, karya Syaikh Abdur Razzaq bin Abdil Muhsin Al-Badr (hal. 33-34, dan 38) sebagaimana dalam majalah Asy-Syariah (vol.IV/no.42/1429H/2008)]

Demikianlah kemurahan dan kemudahan dari Allah bagi umat Rasulullah -Sholllallahu alaihi wa sallam-. Allah - Subhana Wa Ta’ala- memberi mereka umur yang pendek dibandingkan dengan umat-umat terdahulu, namun mereka diberi amalan yang ringan dan mudah. Amalan yang mudah dan ringan tersebut diberi balasan dengan pahala yang sangat besar. Mereka adalah umat yang terakhir, namun yang pertama masuk ke dalam surga.

Walaupun keistimewaan umat Islam besarnya seperti ini, tapi banyak orang yang tak menjadikannya sebagai motivasi dalam menambah kesyukuran. Jangankan ber-dzikir, sholat saja ditinggalkan demi dunia yang fana!! Kehidupan dunia terlalu memikat kebanyakan dari mereka. Mata mereka tersilaukan dengan keindahan dan gemerlapnya kehidupan dunia, sehingga membuat mereka lupa dari mengingat Allah yang telah menciptakan, memelihara dan melimpahkan nikmat-Nya yang tak terhitung kepada mereka. Padahal Allah -Azza wa Jalla- telah mengingatkan dalam firman-Nya,

“ Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. barangsiapa yang berbuat demikian Maka mereka Itulah orang-orang yang merugi. ” (QS. Al-Munafiqun: 9)

Ayat di atas dengan jelas mengabarkan bahwa orang yang lalai dari mengingat Allah, ia akan merugi di dunia terlebih lagi di akhirat. Ia akan sangat menyesali waktu yang ia sia-siakan dari berdzikir kepada Allah -Azza wa Jalla- sebagaimana Rasulullah -Sholllallahu alaihi wa sallam- juga telah mengingatkan,

مَا مِنْ سَاعَةٍ تَمُرُّ بِابْنِ آدَمَ لاَ يَذْكُرُ اللهَ تَعَالَى فِيْهَا إِلاَّ تَحَسَّرَ عَلَيْهَا يَوْمَ اْلقِيَامَةِ

“Tidak ada suatu waktu pun yang terluputkan dari anak adam untuk berdzikir kepada Allah kecuali ia akan menyesali waktu tersebut pada hari kiamat” . [HR. Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman (508). Di-hasan-kan oleh Al-Albaniy dalam ShahihulJami’ (5720)].

Pembaca yang mulia, ingatlah bahwa kehidupan dunia akan berakhir dan hari pembalasan kan menjelang. Siapkanlah amal kebaikanmu sebanyak-sebanyaknya selama engkau di dunia ini. Sebab, amal kebaikan itu akan menjadi bekalmu yang akan membantumu dalam meniti perjalanan yang panjang dan berat di akhirat. Janganlah engkau terlena dengan gemerlapnya kehidupan dunia dan janji-janji kosong setan hingga engkau pun termasuk dalam deretan orang-orang yang merugi lagi menyesal. Oleh karenanya, Allah dan Rasul-Nya telah memperingatkan kita untuk memperbanyak amalan shalih selama di dunia. Allah -Azza wa Jalla- telah mengingatkannya dalam firman-Nya,

“ Supaya jangan ada orang yang mengatakan: "Amat besar penyesalanku atas kelalaianku terhadap Allah, sedang aku sesungguhnya termasuk orang-orang yang memperolok-olokkan (agama Allah ). ” (QS. Az-Zumar: 56).

Ketahuilah, orang yang berpaling dari berdzikir (mengingat) Allah -Subhanahu wa Ta’la-, ia bagaikan mayat yang berjalan di muka bumi; setan akan menjadi pendampingnya serta akan mematikan hatinya. Rasulullah -Sholllallahu alaihi wa sallam- pernah bersabda,

مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لَا يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ

”Perumpamaan orang-orang yang berdzikir (mengingat) Rabbnya, dan orang-orang yang tidak berdzikir (mengingat) Rabbnya adalah seperti (orang) yang hidup dan mati." [HR. Al-Bukhari dalam Kitab Ad-Da'awaat (6407)].

Allah -Azza wa Jalla- berfirman,

“ Barangsiapa yang berpaling dari berdzikir kepada Allah yang Maha Pemurah, kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan), maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. ” (QS. Az-Zukhruf: 36).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah-rahimahullah- berkata, ”perandaian dzikir bagi hati adalah seperti air bagi ikan. Apa jadinya keadaan ikan tanpa air ?? ” [Lihat Al-Wabilus Shayyib hal. 84. cet. Daar Ibnul Jauzy].

Oleh karenanya, seyogyanya bagi kita untuk memperhatikan perkara ini. Sebab, waktu berjalan terus dan catatan amalanpun takkan berhenti. Barangsiapa yang banyak catatan kebaikannya, maka ia adalah orang yang bahagia. Barangsiapa yang banyak catatan amalan kejelekannya, maka ia orang yang merugi lagi celaka. Jika seseorang senantiasa berdzikir, maka Allah tidak akan meninggalkan dan membiarkannya. Sebab Allah -Azza wa Jalla- berfirman,

“ Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. ” (QS. Qoof: 18).

Al-Hafizh Ibnu Katsir-rahimahullah- menukilkan perkataan Ibnu Abbas -radhiyallahu anhu- tentang ayat diatas, “Malaikat itu mencatat setiap apa yang di ucapkannya berupa kebaikan ataupun kejelekan.”[Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim (7/308)]

Marilah kita membasahi lisan-lisan kita dengan dzikrullah agar ketentraman, kedamaian dan keberuntungan senantiasa menyertai kita baik di dunia, maupun di akhirat kelak. Sebab Allah -Azza wa Jalla- berfirman,

“ Dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung .” (QS. Al-Anfal: 45)

Ingatlah Allah, niscaya Allah akan mengingatmu. Ingatlah Allah di waktu senangmu, niscaya Allah akan mengingatmu dikala susahmu. Janganlah engkau ragu kepada janji Allah. Sebab, Allah sudah memastikannya dalam firman-Nya,

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 152).

Pembaca yang budiman, tentunya untuk mengamalkan dzikir-dzikir dalam kehidupan sehari-hari harus yang warid (datang) dari Al-Qur’an dan As-Sunnah (hadits yang shahih), karena betapa banyak orang-orang yang berdzikir sampai terisak-isak, meraung-raung sambil berlinang air matanya, akan tetapi amalannya sia-sia belaka. Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

"Barang siapa yang melakukan suatu amalan yang tidak pernah kami perintahkan, maka amalan tersebut tertolak". [HR. Muslim]

Sumber : Buletin Jum’at At-Tauhid edisi 129 Tahun II. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. HP : 08124173512 (a/n Ust. Abu Fa’izah). Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Dzikro. Untuk berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary (085255974201). (infaq Rp. 200,-/exp)

Copas dari : http://almakassari.com/artikel-islam/akhlak/membasahi-lisan-menyejukkan-hati.html#more-739

Minggu, 04 Desember 2011

Laksana Bulan dan Bintang

Diantara hikmah ilahi, Allah -Subhanahu wa Ta’la- menciptakan kegelapan sebagai waktu untuk beristirahat bagi makhluk hidup dan untuk mendinginkan suhu udara bagi tubuh makhluk hidup dan tumbuh-tumbuhan. Allah tidak membiarkan malam gelap dan kelam tanpa ada cahaya sedikitpun, sehingga makhluk hidup tidak dapat bergerak dan beraktifitas. Itu merupakan konsekuensi hikmah Allah-Azza Wa Jalla-; Dia menerangi malam dengan sedikit cahaya. Berhubung makhluk hidup kadangkala butuh bergerak, berjalan dan melakukan pekerjaan pada malam hari yang tidak dapat dilakukan pada siang hari, karena sempitnya waktu siang, ataukah karena panasnya yang sangat, ataukah karena takut keluar pada siang hari sebagaimana halnya kebanyakan hewan-hewan. Lantaran itu, Allah -Subhanahu wa Ta’la- mengerahkan tentara-tentara cahaya untuk membantu makhluk hidup di kegelapan malam. Allah menyediakan bulan dan bintang pada malam hari, sehingga makhluk hidup dapat melakukan banyak pekerjaan, misalnya bersafar, bercocok tanam atau pekerjaan lainnya yang biasa dilakukan oleh para petani.
Cobalah perhatikan cahaya rembulan di kegelapan malam dan cobalah renungi hikmah yang tersembunyi di balik itu. Allah menciptakan cahaya bulan tidak seterang cahaya matahari agar tampak perbedaan antara siang dan malam. Sebab jika sama terangnya, maka akan luputlah hikmah pergantian siang dan malam yang telah ditetapkan oleh Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Cobalah perhatikan hikmah yang Allah ciptakan pada bintang-bintang yang bertaburan di langit dan keajaiban penciptaannya. Bintang-bintang itu menghiasi gelapnya malam sehingga menambah kecantikan langit di malam hari dan laksana kompas bagi manusia dalam menentukan arah jalan yang tidak ia ketahui di darat dan di lautan. Maha Suci Allah yang telah menciptakan segala sesuatu dengan sebaik-baiknya.
"Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam". (QS. Al-A’raf:54 )
Pembaca yang mulia, Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- pernah menjadikan kedua makhluk ini sebagai perandaian dan perumpamaan yang indah, tatkala Beliau -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,
وَ فَضْلُ اْلعَالِمِ عَلَى اْلعَابِدِ كَفَضْلِ اْلقَمَرِ عَلَى سَائِرُ اْلكَوَاكِبِ, إِنَّ العُلَمَاءَ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ, إِنَّ اْْلأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْنَارًا وَلاَ دِرْهَمًا, إِنَّمَا وَرَّثُوْا اْلعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهَ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
"Keutamaan orang yang berilmu dibanding dengan ahli ibadah, seperti keutamaan bulan purnama atas seluruh bintang-bintang. Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi. Sesungguhnya para nabi tidaklah mewariskan dinar dan dirham, (tetapi) mereka mewariskan ilmu. Barangsiapa mampu mengambilnya, berarti dia telah mengambil keberuntungan yang banyak." [HR.Abu Dawud (3641), At-Tirmidzi(2682)].
Mungkin akan timbul pertanyaan di benak kita, mengapa Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- mempermisalkan orang yang berilmu dengan bulan purnama, sedangkan ahli ibadah dengan bintang-bintang? Oleh karenanya, marilah kita menyimak penjelasan dari para ulama kita.
Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali-hafizhohullah- berkata dalam menjelaskan hadits ini:”Dipermisalkan keutamaan orang alim dengan ahli ibadah seperti keutamaaan bulan purnama atas seluruh bintang merupakan permisalan yang sesuai dengan kondisi bulan purnama dengan bintang-bintang. Sebab bulan purnama menerangi ufuk dan memancarkan cahayanya ke seluruh penjuru alam. Demikianlah keadaannya orang yang alim. Adapun bintang-bintang, maka cahayanya tidak melampaui dirinya sendiri atau sesuatu yang dekat dengannya. Ini adalah kondisinya ahli ibadah. Cahaya ibadahnya hanya mampu menerangi dirinya, tanpa selain dirinya. Kalaupun cahaya ibadahnya mampu menerangi selainnya, maka jangkauan cahayanya tidaklah jauh sebagaimana terangnya bintang yang hanya sedikit”. [Lihat Bahjatun Nazhirin Syarhu Riyadhus Shoolihin (2 /472)]
Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah -rahimahullah- berkata, "Di dalam perumpamaan tersebut terdapat mutiara yang lain, yaitu bahwa kejahilan laksana malam dalam kegelapannya. Para ulama dan ahli ibadah seperti kedudukan bulan dan bintang-bintang yang terbit dalam kegelapan itu. Keutamaan cahaya seorang yang berilmu dalam kegelapan itu dibandingkan cahaya seorang yang ahli ibadah seperti keutamaan cahaya bulan dibandingkan bintang-bintang".[Lihat Miftah Dar As-Sa'adah (1/259), tahqiq Ali bin Hasan Al-Atsariy].
Jika kita memperhatikan keadaan bulan purnama, maka kita menyaksikannya, walaupun dia hanya sendiri, namun sudah cukup untuk menerangi gelapnya malam. Tetapi, walaupun jumlah bintang bermilyar-milyaran, namun jumlah yang banyak itu tidak mampu menerangi malam. Hal ini disebabkan karena cahaya bintang sangatlah sedikit, sehingga ia hanya mampu menerangi dirinya sendiri, tanpa yang lainnya.
Al-Qodhi Iyadh -rahimahullah- berkata, "Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- menyerupakan orang yang berilmu dengan bulan, ahli ibadah dengan bintang-bintang, karena kesempurnaan ibadah, dan cahayanya tak akan melampaui diri ahli ibadah tersebut. Sedang cahaya orang berilmu akan terpancar kepada yang lainnya". [Lihat Tuhfah Al-Ahwadziy (6/481)]
Orang yang berilmu akan menjadi berkah dimanapun ia berada. Ia bisa mengajari manusia dengan ilmu yang bermanfaat. Sehingga manusiapun bisa berjalan di muka bumi dengan cahaya ilmu yang akan menuntun mereka dalam gelapnya alam kejahilan. Seluruh manusia akan mengambil manfaat darinya, baik yang jauh maupun yang dekat, yang besar maupun yang kecil sebagaimana para makhluk dapat mengambil manfaat dari cahaya bulan purnama baik yang jauh maupun yang dekat. Bahkan hewan-hewan yang melata di muka bumi serta ikan- ikan yang berada di dasar lautan merasakan manfaatnya sehingga merekapun memintakan ampunan bagi orang-orang yang berilmu. Hal ini sebagaimana sabda Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-,
وَ إِنَّ اْلعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِيْ السَّمَاوَاتِ وَ مَنْ فِيْ الأَرْضِ حَتَّى اْلحِيْتَانِ فِيْ المَاءِ
" Sesungguhnya orang yang berilmu akan dimintakan ampunan oleh para makhluk yang berada di langit dan di bumi bahkan sampai ikan-ikan besar yang berada di dasar lautan " [HR. Abu Dawud (3641) dan At-Tirmidzi (3682)].
Abu Sulaiman Al-Khoththobiy -rahimahullah- berkata, "Sesungguhnya Allah –Subhanahu- telah menetapkan ilmu tentang ikan-ikan dan selainnya diantara jenis-jenis hewan melalui lisan para ulama, yaitu ilmu tentang jenis-jenis manfaat dan kemaslahatan serta rezqi-rezqi. Merekalah (yaitu para ulama) yang menjelaskan hukum tentang sesuatu yang halal dan haram dari hewan-hewan itu; mereka memberikan bimbingan kepada kemaslahatan dalam permasalahan ikan-ikan dan hewan-hewan. Mereka mewasiatkan untuk berbuat baik kepada hewan-hewan tersebut, dan menghilangkan madhorot (kerusakan) darinya. Lantaran itu, Allah mengilhamkan kepada hewan-hewan itu untuk memintakan ampunan bagi para ulama (orang-orang berilmu) sebagai balasan atas kebaikan perbuatan dan kasih sayang mereka terhadap hewan-hewan". [Lihat Aunul Ma'bud (8/137) karya Syamsul Haqq Al-Azhim Abadiy]
Para pembaca yang budiman, Iniliah keutamaan ilmu. Namun perlu diketahui, ketika kita mendapatkan kata "ilmu" ( الْعِلْمُ ) di dalam Al-Qur’an maupun As-Sunnah, maka yang dimaksud adalah ilmu agama . Yaitu ilmu tentang syari’at Allah yang diturunkan kepada Rasul-Nya -Shollallahu alaihi wa sallam- berupa wahyu yang menjadi keterangan dan petunjuk. Telah dimaklumi bahwa para Nabi -alaihi salaam- tidaklah mewariskan kepada umatnya ilmu perekonomian dan perindustrian atau yang berhubungan dengannya. Namun, yang mereka wariskan hanyalah ilmu syari’at alias ilmu wahyu, bukan yang lainnya!! [Lihat Kitab Al-Ilm (hal. 9) karya Syaikh Al-Utsaimin, cet. Dar Al-Itqon, Mesir]
Namun bukan berarti mempelajari ilmu selain agama tidaklah penting. Sebab tidak bisa dipungkiri bahwa ilmu-ilmu tersebut memiliki manfaat yang bisa kita rasakan. Akan tetapi, ilmu-ilmu tersebut pemanfaatannya memiliki dua sisi. Jika ilmu-ilmu tersebut digunakan untuk bermaksiat dan membuat kerusakan di muka bumi, maka ia akan menjadi suatu hal yang tercela. Namun Jika digunakan untuk menopang ketaatan kepada Allah dan untuk menolong agama-Nya serta manusia pun dapat mengambil manfaat dari ilmu-ilmu tersebut, maka ilmu-ilmu tersebut merupakan suatu kebaikan dan kemaslahatan. Bahkan bisa menjadi wajib mempelajarinya dalam keadaan tertentu, apabila perkara itu masuk dalam firman Allah -Azza wa Jalla-
"Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang". (QS. Al-Anfal: 60).
Akan tetapi, kondisi kaum muslimin pada hari ini sangat memprihatinkan. Mereka berlomba-lomba mengejar ilmu dunia dan lari meninggalkan ilmu agamanya. Bahkan yang lebih mencengangkan lagi, ketika mereka menganggap bahwa mempelajari ilmu agama adalah sebuah kemunduran. Setan menghias-hiasi di mata mereka bahwa ilmu-ilmu dunia merupakan jalan menuju kesejahteraan hidup dan kebahagiaan. Sedangkan mempelajari ilmu agama Allah akan membuat hidup sengsara, miskin dan tidak memiliki masa depan. Hal ini bisa kita lihat di sekitar kita. Para orang tua sekarang merasa malu jika ia memasukkan anak-anaknya untuk belajar di pondok-pondok pesantren. Sebaliknya,amat bangga jika menyekolahkan anaknya di sekolah-sekolah terkenal yang tidak punya perhatian dengan agama, walaupun harus membayar mahal. Mereka berusaha dengan keras agar anaknya bisa masuk ke sekolah tersebut, walaupun harus gali lobang, tutup lobang dan makan apa adanya. Tetapi ketika anak-anaknya menjadi brandalan dan sampah masyarakat, serta bodohnya minta ampun, maka merekapun mulai mencari pondok-pondok pesantren terdekat untuk anak brandal mereka. Ibaratnya pesantren adalah bengkel bagi barang rongsokan yang tidak lagi bisa dimanfaatkan.
Wahai kaum muslimin, apakah ini sumbangsih kalian kepada islam!!! Pada hari ini, Islam juga butuh dengan otak-otak yang jenius. Pesantren-pesantren juga butuh dengan anak-anak yang cerdas sehingga dapat melahirkan ulama-ulama seperti Al-Imam Malik, Al-Imam Asy-Syafi’iy, dan Ahmad -rahimahullah- .
Maka jadilah kaum muslimin pada hari ini sangat berambisi mengejar dunia, tanpa mengenal lagi aturan-aturan Allah Yang Maha Bijaksana. Mereka tidak peduli lagi dengan halal dan haram, yang penting kebutuhan terpenuhi. Sehingga Allah menimpakan kehinaan kepada kaum muslimin pada hari ini. Rasulullah -Sholllallahu alaihi wa sallam- bersabda,
إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِيْنَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيْتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَيَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوْا إِلَى دِيْنِكُمْ
"Jika kalian berjual beli dengan cara ‘inah, memegang ekor-ekor sapi (sibuk ternak), ridho dengan bercocok tanam (sibuk tani), dan kalian meninggalkan jihad, maka Allah akan menguasakan kehinaan atas diri kalian; tak akan dicabut oleh Allah sampai kalian kembali kepada agama kalian". [HR. Abu Dawud dalam Kitabul Ijaroh (3462). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (11)]
Allah -Azza wa Jalla-juga berfirman,
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu”. (QS. At-Tahriim: 6)
Lalu bagaimanakah cara kita untuk melindungi diri dan keluarga kita dari api neraka jika kita tidak memiliki ilmu agama!?! Kita tidak mengetahui mana yang halal dan yang haram. Oleh karenanya, kita harus segera menyadari sebelum semuanya terlambat bahwa tidak ada jalan menuju kebahagiaan yang hakiki kecuali harus kembali mempelajari agama yang mulia ini. Bukan berarti semua orang harus menjadi ulama atau ustadz, sebab kaum muslimin juga butuh kepada polisi, montir, dokter, dan yang lainnya. Akan tetapi yang kami maksudkan adalah setiap muslim memahami dengan benar prinsip-prinsip agamanya yang berasal dari Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai dengan pemahaman para sahabat Nabi -Sholllallahu alaihi wa sallam- . Sebab, seseorang yang memiliki ilmu agama akan senantiasa mendapatkan kebahagiaan, bukan hanya di dunia saja, juga tetapi di alam barzakh dan di akhirat kelak. Rasulullah -Sholllallahu alaihi wa sallam- bersabda,
مَنْ سَلَكَ طَرِيْقاً يَلْتَمِسُ بِهِ عِلْماً سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيْقاً إِلَى اْلجَنَّةِ
“Barangsiapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju ke surga”. [HR. muslim(2699)].
Sumber : Buletin Jum’at At-Tauhid edisi 116 Tahun II. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. HP : 08124173512 (a/n Ust. Abu Fa’izah). Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Dzikro. Untuk berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary (085255974201). (infaq Rp. 200,-/exp)

Copy dari : www.almakassari.com