Tampilkan postingan dengan label Manhaj. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Manhaj. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 Januari 2012

Bahaya Kebebasan Berpikir

Beberapa hari yang lalu kami memungut selembar koran harian Tribun Timur(edisi Jumat, 4 Juli 2008 M). Sejenak kami membolak-balik koran bekas itu, tiba-tiba kami menemukan pada (hal.4), di bawah rubrik Tribun Opini terdapat sebuah tulisan yang nampaknya cukup "ilmiah". Hal itu terlihat dari judulnya yang tertulis "Islam: Inovasi atau Stagnasi?" yang ditulis oleh Ismail Amin, seorang mahasiswa Mostafa Internasional University Islamic Republic of Iran. Selanjutnya kami sebut dengan "si Penulis"
Nampaknya ilmiah, namun ternyata tulisan ini memuat beberapa perkara yang menunjukkan bahwa tulisan ini tidak ilmiah menurut tinjauan syari’at, bahkan bersifat tendensial. Si Penulis dalam artikel itu berusaha mengomentari kondisi kemunduran teknologi dan perekonomian kaum muslimin yang dikaitkan dengan agama.

Jumat, 13 Januari 2012

Pernyataan Imam Madzhab dalam menyikapi Sunnah

Perkataan Imam-Imam di dalam Mengikuti Sunnah dan Meninggalkan Perkataan Yang Bertentangan Dengannya
Berikut perkataan syaikh Al Albani…
Kiranya sangat bermanfaat untuk disajikan di sini sedikit atau sebagian perkataan mereka, dengan harapan, semoga di dalamnya terdapat pelajaran dan peringatan bagi orang yang mengikuti mereka, bahkan bagi orang yang mengikuti selain mereka yang lebih rendah derajatnya dari taqlid buta, dan bagi orang yang berpegang teguh kepada madzab-madzab dan perkataan-perkataan mereka, sebagaimana kalau madzab-madzab dan perkataan-perkataan itu turun dari langit. Allah Subhanahu Wa Ta’ala, berfirman:
“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhan-mu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selainnya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (dari padanya)”. (QS. Al-’Araf :3)
I. ABU HANIFAH
Yang pertama-tama diantara mereka adalah Imam Abu Hanifah An-Nu’man bin Tsabit. Para sahabatnya telah meriwayatkan banyak perkataan dan ungkapan darinya, yang semuanya melahirkan satu kesimpulan, yaitu kewajiban untuk berpegang teguh kepada hadits dan meninggalkan pendapat para imam yang bertentangan dengannya.

Sabtu, 12 November 2011

Jangan Heran

Asy Syeikh Dr. Sholih bin Fauzan Al Fauzan Hafidzahullah

Segala puji hanya milik Allah, Salawat serta salam atas Rasulullah.

Saya telah membaca perkataan beberapa masyeikh yang dimuat di surat kabar “Al wathan”. Mereka heran dengan perpecahan diantara kaum muslimin, padahal mereka yang berpecah belah tersebut berkata : “Tuhan kami  Adalah Allah”, Nabiku Muhammad, Agamaku Islam.

Saya berkata, tidak perlu heran dengan fenomena seperti itu. Sebab ucapan tidaklah cukup tanpa merealisasikan apa yang ditunjukkan oleh ucapan tersebut. Maka tidak cukup seseorang itu berkata :”Allah Tuhanku”, sampai ia istiqomah diatas kalimat ini dengan menerapkan apa yang ditunjukkan oleh ucapannya, yaitu beribadah kepada Allah semata, dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Allah Ta’ala berfirman :
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan Kami ialah Allah", kemudian mereka tetap istiqamah, Maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita”.(QS. Al Ahqaf :13)

Nabi Sallalahu Alaihi Wasallam bersabda, ketika Sufyan bin Abdullah Radiyallahu Anhu memintanya untuk diberikan satu perkataan di dalam islam, yang mana hal tersebut tidak akan ia minta kepada selain Nabi, maka beliau (Sallalahu Alaihi Wasallam) berkata kepadanya:
قل آمنت بالله ثم استقم
“ Katakanlah : “Saya beriman kepada Allah, kemudian istiqomahlah”(HR. Ahmad no.14869)

Kalau hanya mengatakan :” Tuhanku ialah Allah” yang bermakna mengakui tauhid rububiyah, itu tidaklah cukup sehingga mengakui tauhid uluhiyah, dengan tidak menyembah(beribadah) kecuali hanya kepada Allah semata, dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Kaum musyrikin mengakui tauhid rububiyah, tetapi mereka menyekutukan Allah dalam uluhiyah-Nya, sebagaimana yang disebutkan Allah didalam Al Qur’anul Karim.

Juga tidak cukup, seseorang berkata :”Muhammad adalah nabiku” tanpa mengikuti Rasulullah, tidak mentaati perintahnya, tidak membenarkan berita dari beliau serta tidak mengikuti syariat yang beliau bawa dalam menyembah kepada Allah. Karena hal-hal tersebut merupakan tahqiq (pembenaran) dari perkataan:”Muhammad adalah nabiku”.

Adapun orang yang  berkata demikian, lalu tidak mentaati beliau pada apa-apa yang diperintahkan tidak menjauhkan diri dari apa-apa yang beliau larang, tidak membenarkan berita dari beliau, tidak menjauhkan diri dari berbagai bid’ah serta perkara yang di ada-adakan dalam agama, bahkan melakukan ibadah kepada Allah tanpa ada dasar syariatnya dari Rasul Sallalahu Alaihi Wasallam, maka perkataannya (”Muhammad adalah nabiku”) sama sekali tidak memberi manfaat baginya.

Demikian pula orang yang berkata :”Islam agamaku”, ia harus komitmen (berpegang teguh) dengan seluruh hukum-hukum islam, seperti aqidah, syariat, muamalah, akhlaq dan suluk. Jangan mengatakan islam agamaku lalu mengikuti ajaran yang menyelisihi ajaran islam, akan tetapi ber “islam”lah dengan menempuh metode para pendahulu ummat ini dari kalangan muhajirin dan anshor, dan siapapun yang mengikuti mereka dengan baik.

Allah Ta’ala berfirman :
وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Dan ini adalah jalanKu yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain) karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa” (QS. Al An’am :153)

Inilah yang saya ingin peringatkan disini, Allah berfirman :
إِنْ أُرِيدُ إِلا الإِصْلاحَ مَا اسْتَطَعْتُ وَمَا تَوْفِيقِي إِلا بِاللهِ
Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah.”. (QS. Hud :88)

Sumber :http://www.sahab.net/home/index.php?Site=News&Show=716

Copy dari : http://ahlusunnahpalopo.blogspot.com

Rabu, 09 November 2011

MEMBONGKAR KEDOK IHYA’UT TUROTS DAN JARINGANNYA

Syaikhuna Abu Abdillah Kholid bin Dhohawi Adh-Dhufairi 1)
بسم الله. الحمد لله والصلاة و السلام على رسول الله و على آله وصحبه ومن اتبع هداه, أما بعد:
Diantara pertanyaan yang diajukan oleh saudara-saudara kalian adalah satu hal yang penting yaitu permasalahan yayasan Ihya’ut Turots. Permasalahan ini meresahkan banyak Salafiyyin diberbagai negara. Jangan kalian menduga bahwa masalah ini hanya menimpa negara kalian saja, bahkan kejahatan Ihya’ut Turots sebagai yayasan yang berbahaya telah meluas dan terdapat di mayoritas negara yang tersebar padanya dakwah Salafiyyah. Yayasan ini mempunyai pengaruh di Kuwait dan inilah sumbernya, begitu pula di Yaman, Sudan, Mesir, Bangladesh dan di mayoritas negara yang padanya Salafiyyin tersebar. Sikap terhadap yayasan ini sangatlah jelas dan tidak ada keraguan, karena permasalahan ini adalah permasalahan antara Salafiyyin dan Hizbiyyin. Barang siapa yang melihat dan mempelajari keadaan yayasan ini, memperhatikan kondisi-nya dan meneliti sikap-sikap dan tujuannya, niscaya dia akan mengetahui bahwasannya yayasan ini tidaklah berada diatas jalan kebaikan. Tujuan dari yayasan ini jelek dan manhajnya menyimpang dari jalan yang lurus. Yayasan ini telah banyak menyelisihi prinsip-prinsip yang diyakini Ahlussunnah.
1
Yayasan Ihya’ut Turots Menyelisihi Ahlussunnah
Dalam Hal Ketaatan Kepada Pemerintah
Mereka menyelisihi Ahlussunnah dalam permasalahan ketaatan kepada pemerintah, dan telah kita bahas di dalam kitabul imaroh (kitab Shahih Muslim) bahwasanya ketaatan kepada pemerintah termasuk perkara penting. Maka mereka menyelisihi Ahlussunnah dalam perkara ini dengan mengadakan pemimpin-pemimpin yang di bai’at untuk mengurus masjid-masjid atau daerah-daerah. Mereka memiliki sistem bai’at dan pemerintahan tersendiri yang mereka namakan tidak sesuai dengan hakikatnya. Seperti mereka namakan dengan tanzhim (pengaturan), ‘ahd, mitsaaq, wafaa’ (ikatan janji) atau yang semisalnya. Ini semua hanyalah menamai sesuatu yang tidak sesuai dengan hakikatnya. Padahal sebenarnya semua itu adalah sistem pemerintahan (yang menyelisihi pemerintahan resmi negara, pent). Kami (Syaikh Kholid, pen.) langsung me-nyakikan fenomena ini sehingga tidak perlu seorang pun mendustakan dan mengingkari-nya. Sebagai contoh yang terjadi di tempat kami di Kuwait, sejak dahulu hingga sekarang mereka menjadikan di setiap masjid seorang amir (pemimpin), dan tidaklah boleh seorang pun menyelisihinya. Jika engkau menyelisihi-nya maka engkau dianggap berdosa. Dan sang amir masjid ini memiliki amir diatasnya lagi yaitu amir kota (wilayah), dan amir kota ini yang mengatur dan memerintah para amir masjid tersebut. Sedangkan para amir kota juga mempunyai atasan lagi yaitu amir yayasan. Demikianlah, bahkan walau untuk urusan berkunjung dan bersilaturahmi kepada sanak kerabat pun engkau tidak boleh melakukannya kecuali dengan meminta izin kepada amir tersebut, jika tidak maka engkau dianggap berdosa. Ini semua adalah perkara bid’ah yang tidak pernah dikenal dikalangan generasi shahabat ataupun selain mereka. Pernahkah kalian mendengar bahwa di masjid Quba ada amir-nya? Atau pernahkah kalian mendengar bahwa ada amir di setiap masjid di zaman Abu Bakar Radhiallahu‘anhu? Yang ada adalah kepemimpinan secara umum dan kekhilafahan (yang sah, pen.), serta adanya amir yang ditugaskan pemerintah untuk kota dan daerah. Adapun sistem pemerintahan yang mereka buat ini adalah pemerintahan bid’ah yang tidak sesuai dengan manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah. Bahkan hal itu adalah salah satu bentuk pemberontakan terhadap pemerintahan yang sah. Telah kami sebutkan ucapan Syaikh Hammad Al-Anshori Rahimahullah ketika aku tanyakan kepada beliau tentang hal ini, maka beliau menjawab: “Hendaknya dibunuh yang terakhir muncul dari keduanya”. Ini termasuk dalam bab yang dianggap beliau sebagai pemberontakan terhadap pemerintahan yang sah. Pemerintahan propaganda yang mereka terapkan ini telah ditulis dalam satu buku oleh Muhammad bin Hamud An-Najdi, demikian pula Abdullah bin Sabt telah mengarang satu buku untuk hal ini dan banyak lagi dari mereka yang menulis buku dan berbicara didalam muhadhoroh-muhadhoroh yang terekam, yang semua itu dengan satu tujuan untuk mengokohkan pemerintahan mereka tadi. Ini adalah penyelisihan mereka terhadap pemahaman Ahlussunnah.
2
Yayasan Ihya’ut Turots Menyelisihi Ahlussunnah
Dalam Menyikapi Orang Yang Menyimpang
Permasalahan lain yang mereka menyelisihi Ahlussunnah adalah dalam menyikapi orang yang menyimpang. Ahlussunnah memiliki sikap yang jelas terhadap orang yang menyimpang, seperti sikap terhadap hizbiyyin, takfiriyyin, quthbiyyin dan orang-orang yang memerangi Ahlus-sunnah. Sedangkan pada yayasan ini, sikap mereka berbeda dengan sikap para ulama salaf. Mereka mengundang hizbiyyin untuk menyampaikan muhadhoroh, mereka menga-dakan mu’tamar dan seminar-seminar, serta mereka mengundang di daerah kami Abu Ishaq Al-Huwaini dan Muhammad Hassan yang memuji Sayyid Quthub dan mencela para masyaikh Ahlussunnah seperti Syaikh Rabi’ dan semisal beliau. Demikian pula mereka mengundang Muhammad Shofwat Nuruddin,-dan orang ini telah wafat-, ketika dia datang dan menyampaikan muhadhoroh di Kuwait dia berkata, bahwa: “perpecahan ummat dan beragamnya kelompok-kelompok dalam Islam adalah kenyataan yang sehat”. Ini jelas menyelisihi sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang melarang perpecahan dan memerintahkan untuk bersatu.
“Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang berpecah belah setelah datang kepada mereka keterangan”.
Allah melarang dari perpecahan namun orang ini malah berkata perpecahan adalah kenyataan yang sehat. Pemahaman ini diambilnya dari Abdurrahman Abdul Khaliq (dedengkot Ihya’ut Turots, pen.), dan jangan-lah seseorang menduga bahwa kesalahan, kekeliruan dan kejahatan ini hanya terbatas pada Abdurrahman Abdul Khaliq saja. Sungguh, ada beberapa orang lagi yang keluar dari manhaj ini walaupun Abdurrahman adalah sebagai pendahulu mereka dalam kesesatan ini. Kita mohon keselamatan kepada Allah. Inilah sikap mereka terhadap orang-orang yang menyimpang, bahkan mereka tidak suka membicarakan dan mentahdzir orang-orang yang menyimpang dan para Hizbiyyin, mereka anggap itu adalah perbuatan memecah belah ummat. Inilah sikap yang mereka serukan di daerah kami. Mayoritas kalian yang datang dari Yaman tentu mengenal Al-Mahdi dan Al-Maqtiri serta sikap keduanya terhadap Ahlussunnah wal Jama’ah dan dakwah Syaikh Muqbil. Sungguh mereka telah datang ke Kuwait berkali-kali dan mengadakan seminar serta muhadhoroh, semua ini adalah bentuk penyimpangan terhadap manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah. Mereka mencoba di Yaman dengan membentuk yayasan Al-Hikmah dan menyalurkan bantuan-bantuan padanya serta menerbitkan majalah Al-Furqon. Thoriq Al-Isa setelah kunjungannya ke Yaman dan men-datangi yayasan Al-Hikmah dia kembali ke Kuwait dan membuat tulisan di majalah Al-Furqon dengan memuji yayasan Al-Hikmah dan kesungguhan dakwahnya.
Demikianlah mereka selalu akrab dengan orang-orang yang menyimpang dan selalu memerangi Ahlussunnah. Maka ini adalah salah satu prinsip dari prinsip-prinsip Ahlus-sunnah dalam menyikapi orang-orang yang menyimpang.
3
Yayasan Ihya’ut Turots Menyelisihi Ahlussunnah
Dalam Menyikapi Salafiyyin
Termasuk penyelisihan mereka terhadap Ahlussunnah adalah sikap mereka terhadap salafiyyin. Engkau tidak akan mendapati mereka mau menolong salafiyyin dan tidak pula engkau dapati sikap terpuji mereka terhadap ulama Ahlussunnah. Engkau tidak akan dapati mereka mengadakan muhadhoroh dengan masyaikh Ahlussunnah yang dikenal, bahkan mereka berupaya dengan sungguh-sungguh di berbagai daerah untuk memecah belah salafiyyin dengan harta mereka dan inilah kenyataannya. Mereka memecah belah Ahlussunnah setelah sebelum-nya bersatu di bawah bimbingan seorang ‘alim di Bangladesh –telah wafat, Rahimahullah-, mereka datang dan memikat orang–orang yang mencintai harta, inilah metode mereka. Mereka mendatangi sekelompok Ahlussunnah dan melihat siapa yang suka harta sehingga mereka dapat merekrutnya dan memberikan harta kepadanya. Mereka memecah belah Ahlussunnah, mereka datang kesana dan merekrut Asadullah Al-Ghalib dan orang-orang yang bersamanya sehingga berpecahlah salafiyyin menjadi dua kelompok. Di Mesir mereka merusak Anshorus Sunnah, dan saat ini Anshorus Sunnah menjadi politikus-politikus. Mereka membela Abdurrahman Abdul Khaliq dan menyebarkan buku-bukunya serta berpendapat dengan pendapatnya sebagai-mana yang aku nukilkan dari Muhammad Shofwat Nuruddin dan selainnya. Maka mereka menyimpang disebabkan harta dari yayasan ini. Demikian pula di Sudan, Anshorus Sunnah di Sudan telah rusak disebabkan Ihya’ut Turots, hingga mereka menyanjung dan memuji At-Turobi dan mereka mulai masuk kelingkaran politik. Mereka juga berupaya merusak Ahlussunnah di Yaman, tetapi Allah memalingkan tipu daya mereka dan hanya mampu mempengaruhi orang–orang yang terfitnah dengan harta, serta mendirikan yayasan disana sebagaimana yang telah aku sebutkan tadi. Mereka datang kepada Syaikh Muqbil dan menawarkan bantuan, tetapi Syaikh menyadari bahwa mereka mengingin-kan syarat dan ingin mengikat dengan harta bantuan itu sehingga Syaikh menolak dan tidak mau menerima bantuan tersebut. Dan ini adalah perkara yang harus diperingatkan darinya yaitu masalah harta. Mereka sibuk mengumpulkan harta para muhsinin (derma-wan) dan orang-orang yang baik, untuk digunakan memecah belah salafiyyin dengan cara mendatangi sekelompok salafiyyin dan menawarkan harta kepada mereka. Salafus Shalih telah memperingatkan dengan keras tentang hal ini, sebagaimana yang telah diucapkan oleh Abdullah bin Al-Mubarok Rahimahullah: “Jangan sampai Ahlul Bid’ah memiliki jasa terhadapmu!”.
Terkadang mereka datang menawarkan bantuan dan berkata bantuan ini tanpa syarat. Mereka bangun markas dan masjid untukmu kemudian setelah itu baru engkau menyadari ini adalah masalah harta yang jika engkau memulai proyek pembangunan maka engkau akan membutuhkan harta lainnya hingga engkau pun akan butuh kepada orang yang membantumu di awal pembangunan. Disaat itulah mereka akan mencengkram lehermu hingga engkau tidak mampu melepaskan diri. Mereka tidak akan mau membantumu dan menawarkan harta kepadamu kecuali karena mereka ingin engkau juga membantu mereka. Pernahkah engkau ketahui ada seseorang, dimana Ihya’ut Turots telah membangunkan baginya masjid dan markas, lalu dia mampu berkata bahwa: “kami tidak punya hubungan dengan At-Turots”? Dan apakah dia mampu untuk memperingatkan ummat dari Ihya’ut Turots? Demikian pula (apakah dia mampu, pen.) mengadakan muhadhoroh Syaikh Rabi’, Syaikh Ahmad (bin Yahya An-Najmi, pen.), atau Syaikh Zaid (bin Muhammad Al-Madkhali, pen.)?? Dia tidak akan mampu melakukan itu! Dikarenakan bantuan harta yang diambilnya dari mereka sehingga dia berada dibawah pengaturan mereka dan bertindak sesuai maunya mereka. Mereka merubah orang ini dan memalingkannya serta memisahkannya dari Ahlussunnah. Maka sudah seharusnya para ikhwah sekalian bertekad untuk tidak mengambil bantuan dari mereka. Sungguh, Allah Maha Kaya, di tangan-Nya lah segala kekuasaan. Dan kemuliaan hanya bagi orang-orang yang beriman. Maka janganlah kalian mengambil apapun dari mereka walaupun kalian harus belajar di bawah pohon. Jangan kalian biarkan mereka mempunyai jasa terhadap kalian, karena sebagaimana yang kita katakan tadi bahwa tidaklah mereka mau membantu kecuali dengan syarat-syarat dan untuk tujuan menyesatkan dan memecah belah. Adapun jika mereka mengetahui bahwasanya engkau adalah seorang salafy yang sesungguhnya, dan engkau selalu bersama masyaikh Ahlussunnah, maka mereka tidak akan mau bersamamu dan tidak akan menolongmu. Inilah kenyataan yang terjadi pada yayasan Ihya’ut Turots.
4
Yayasan Ihya’ut Turots
Selalu Menjadi Musuh Salafiyyin
Demikian pula keberadaan mereka yang selalu menjadi lawan salafiyyin di mayoritas tempat, contohnya di Kuwait. Mereka sungguh berbeda dengan kami, bagi mereka kelompok mereka dan bagi kami para ikhwah dan pemuda salafiyyin. Sedikitpun mereka tidak ada hubungan dengan kami bahkan mereka mentahdzir kami dan para masyaikh sunnah. Mereka mentahdzir Syaikh Rabi’ dan senantiasa memuji Abdur-rahman Abdul Khaliq. Adapun ucapan mereka bahwa, “kami telah meninggalkan Abdur-rahman Abdul Khaliq”, ini adalah sebuah lelucon yang nyata! Karena Abdurrahman Abdul Khaliq jelas berada di yayasan Ihya’ut Turots, bahkan mempunyai kedudukan di Lajnah ‘Ilmiyyah Ihya’ut Turots. Terkadang jika engkau menelepon untuk meminta fatwa maka mereka akan mengarahkanmu kepada Abdur-rahman Abdul Khaliq sebagai rasa hormat terhadapnya, dia ada dan tinggal di tengah-tengah mereka. Dan tidak benar kalau mereka berkata bahwa, “kami telah meninggalkannya”. Bahkan ada markas cabang Ihya’ut turots yang menyelenggarakan muhadhorah dan seminar bagi Abdurrahman Abdul Khaliq. Dengan ini jelaslah bahwa omongan mereka, “kami telah meninggalkan Abdurrahman Abdul Khaliq”, ibarat melemparkan debu ke mata hingga orang tertipu dengannya. Manusia mengetahui kesesatan Abdurrahman Abdul Khaliq dan mayoritas salafiyyin mengetahui bahwa dia telah menyimpang. Asy-Syaikh Bin Baaz, Asy-Syaikh Al-Fauzan, Asy-Syaikh Rabi’, Asy-Syaikh Al-Faqihi, Asy-Syaikh As-Suhaimi dan Asy-Syaikh Al-Albani telah berbicara tentang Abdurrahman Abdul Khaliq. Mereka tidak mempunyai tipu daya lagi kecuali dengan mengatakan bahwa, “kami telah mengusir Abdurrahman Abdul Khaliq”. Padahal dia adalah saudara mereka yang mulia, dan syaikh yang utama dikalangan mereka. Dengan pengakuan ini mereka ingin memalingkan para pemuda, karena mereka tidak akan bisa masuk kepada pemuda salafiyyin kecuali dengan menyebarkan berita dusta bahwa, “kami telah mengusir Abdurrahman Abdul Khaliq”.
Maka dengan ini kita harus bersikap tegas untuk tidak berhubungan dengan yayasan ini, demikian pula terhadap orang yang berhubungan dan bekerjasama dengan mereka padahal dia mengetahui keadaan mereka dan mendengar ucapan–ucapan ulama tentang mereka. Kita tidak akan membiarkan mereka merusak saudara-saudara kita salafiyyin dan menipu mereka dengan yayasan ini.
Sesungguhnya kita -demi Allah- sudah merasa cukup dengan masyaikh Ahlussunnah dan buku-buku Ahlussunnah, dan kita tidak membutuhkan harta yayasan ini. Kita memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar memberi kita rejeki dengan keutamannya dan menjadikan kita berkecukupan dan tidak memerlukan orang-orang yang ingin me-nyesatkan salafiyyin dengan harta mereka.
Adapun jika mereka berdalil dengan fatwa ulama yang mendukung Ihya’ut Turots, maka kita katakan, “Sungguh, kebenaran tidak diambil dari para tokoh, tetapi para tokoh itu yang diukur dengan kebenaran”. Menghukumi suatu masalah dengan melihat kenyataannya. Kami mengenal baik yayasan ini dan kalian pun mengenalinya dan mengenali sikap fanatiknya dan penyim-pangannya dalam melawan sunnah dan salafiyyin. Maka jika ada yang datang kepada kita dan memuji mereka tentu kita tidak akan menerimanya hanya semata-mata rekomen-dasi dan pujian. Sesungguhnya mereka mendatangi orang ‘alim dan menampakkan diri bahwa mereka berada dijalan Ahlussunnah dan menulis manhaj dan aqidah Ahlussunnah. “Yang jadi ibroh bukanlah ucapan dan apa yang tertulis, tetapi yang jadi ibroh adalah perbuatan dan sepak terjang kalian. Inilah sikap kalian terhadap orang yang menyim-pang. Inilah sikap kalian terhadap Ahlus-sunnah, maka inilah yang jadi ibroh. Sedangkan jika kalian berpenampilan bukan dengan penampilan kalian yang sebenarnya, dan kalian mendatangi ulama untuk men-dapatkan rekomendasi dari Ahlussunnah, sungguh jika datang seseorang kepada orang ‘alim dengan pengakuan seperti itu pastilah orang ‘alim itu akan berkata: ‘Jazakallahu khairan, ini adalah manhaj yang baik’ ”, lalu mereka akan mengambil ucapan ini dengan beranggapan bahwa orang ‘alim ini telah memberikan rekomendasi.
Kita memiliki kaidah, dan para ulama salaf juga telah meletakkan kaidah dan diantara kaidah tersebut adalah bahwa “Kebenaran tidak dikenal dari seorang tokoh, tetapi seorang tokoh itu dikenali dengan kebenarannya”. Dan diantara kaidah juga bahwa, “Kritikan yang terperinci lebih didahulukan daripada pujian secara umum”. Maka jika datang seseorang kepada kita dan berkata: “Demi Allah tidaklah aku melihat keburukan mereka sedikitpun dan tidaklah aku ketahui kecuali mereka diatas kebaikan”, -maka kita katakan, pen.- sungguh hujjah bukanlah pada ucapanmu! Tetapi hujjah bagi siapa yang mengetahui hakikat yang sebenarnya, “Orang yang mengetahui lebih didahulukan ucapannya daripada yang tidak mengetahui”. Kemudian -jika kita melihat kenyataan-, sungguh tidak seorang pun dari ahlul bid’ah yang menyimpang, maka akan ada perselisihan tentangnya. Maksudnya bahwa mayoritas mereka (ahlul bid’ah, pen.) yang ada sekarang sungguh masih ada perselisihan tentang mereka. Maka kalaulah menyikapi masalah ini dengan kaidah kalian bahwasanya, “masih ada ulama yang memuji yayasan Ihya’ut Turots sehingga tidak boleh membicarakan keburukannya”, maka kalau begitu disana juga ada ulama yang memuji Sayyid Quthb, bagaimana menurut kalian? Ada juga ulama yang memuji Abdurrahman Abdul Khaliq, apa berarti tidak boleh membicarakan-nya? Maka kalau Turotsi (orang-orang yang ikut atau membela Ihya’ut Turots, pen.) ini berkata, “tidak boleh membicarakan kejelekan Ihya’ut Turots karena ada ulama yang merekomendasinya”, niscaya akan datang kepadanya seorang sururi dan menghujatnya dengan berkata: “kalau begitu tidak boleh pula membicarakan kejelekan syaikh Salman Al-Audah dan Safar Hawali karena ada ulama yang merekomendasinya”-dia membawakan rekomendasi tertulis dari sebagian ulama-. Maka bagaimana menjawab alasan ini? Turotsi ini tidak akan punya jawaban, kecuali dengan berkata bahwa yang jadi ibroh adalah kenyataan yang ada dan bahwasanya rekomendasi-rekomendasi itu tidak berguna kalau kenyataannya menyelisihi jalan Ahlussunnah, bahkan menyelisihi prinsip imam dan ‘alim yang merekomendasinya. Maka kalau dia terus berpegang dengan pendapat bahwa rekomendasi bisa mencegah untuk membicarakan seseorang, berarti kita nyatakan bahwa rekomendasi juga bisa mencegah untuk membicarakan Abdurrahman, Sayyid Quthb, Salman (al-Audah, pen.), dan selain mereka dari kalangan sururiyyin, quthbiyyin, takfiriyyin dan qiyaskanlah ke yang lainnya!
5
Penutup
Dengan ini jelaslah bahwa adanya perselisihan pada suatu masalah, tidak memberi pengertian bahwa kebenaran tidak jelas pada masalah itu, dan tidak pula menyebabkan kita tidak bersikap. Janganlah ada yang menduga bahwa masalah ini adalah ijtihadiyyah! Karena telah nyata bukti-bukti yang menunjukkan kesesatan yayasan ini dan penyimpangannya dari jalan Ahlussunnah. Maka ini bukan masalah ijtihadiyyah, dimana setiap orang boleh berkata dengan pendapatnya dan orang yang menyelisihinya dilarang untuk menentangnya. Tidak! Masalah ini adalah masalah yang jelas yang menyelisihi Ahlussunnah dan kita harus berhati-hati dari mereka.
Pada hakikatnya yang memecah belah bukanlah Ahlussunnah karena salafiyyin adalah orang-orang yang paling bersemangat untuk tegaknya persatuan. Mereka datang seraya berkata: “Dengan tahdzir kalian terhadap Ihya’ut Turots, Salman, Quthbiyyin, dan Ikhwanul muslimin, semua itu telah menjadi sebab terpecah belahnya ummat”, maka sungguh perkataan itu tidak benar! Karena Ahlussunnah adalah orang-orang yang sangat bersemangat untuk persatuan. Persatuan diatas Al-Kitab dan As-Sunnah dengan pemahaman Salafus Shalih. Dan bukan persatuan ala Hasan Al-Banna dan yang semisalnya dengan semboyan: “Kita bersatu diatas apa yang telah kita sepakati dan kita saling toleransi pada apa yang tidak kita sepakati”, tetapi kita bersatu diatas sunnah. Termasuk faktor utama terwujudnya persatuan adalah memutuskan sebab-sebab perpecahan. Dan termasuk dari sebab munculnya perpecahan adalah penyimpangan, kebid’ahan, dan fanatisme golongan. Dan semua ini termasuk dari sebab munculnya perpecahan. Dengan ini barang siapa yang datang kepada kita dengan fanatisme golongan maka dialah yang menyebabkan perpecahan dan memecah belah salafiyyin. Sedangkan tahdzir dari salafiyyin dalam hal ini hukumnya wajib!! Bahkan tahdzir adalah termasuk sebab bersatunya manusia diatas kebenaran.
Maka termasuk sebab terbentuknya persatuan adalah dengan mentahdzir orang-orang yang meyimpang dan mentahdzir ahlul bid’ah. Oleh karena itu Ahlussunnah sepakat untuk mentahdzir ahlul bid’ah, karena engkau tidak akan mampu mem-persatukan manusia diatas kebaikan kecuali engkau telah memisahkan antara yang haq dan yang bathil. Didalam hadits telah disebutkan bahwa diantara sifat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah memecah belah diantara manusia. Maksudnya adalah beliau memisahkan antara yang haq dan yang bathil.
“Katakanlah, telah datang kebenaran dan telah sirna kebathilan, sungguh kebathilan pasti akan sirna” {Al-Israa’:81}.
Kebathilan dan kebenaran tidak akan mungkin bersatu, jika bersatu berarti menunjukkan orang tersebut tidak berada diatas jalan Ahlussunnah, yaitu jalannya Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam. Salaf selalu membedakan antara haq dan bathil dengan cara memperingatkan ummat dari yang bathil sehingga kebathilan tidak lagi mampu menyesatkan dan menjauhkan manusia dari jalan Salafus Shalih dan dari jalan kebenaran.
Oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat garis lurus kemudian membuat garis lain di kanan dan kirinya seraya berkata: “setiap jalan ini ada syaithan yang menyeru kepadanya”. Kalau begitu disana ada banyak jalan yang padanya syaithan menjauhkan manusia dari jalan Ahlussunnah dan memecah belah manusia. Dengan ini apakah aku harus diam atau mentahdzir ummat dari jalan-jalan itu? Adalah wajib bagiku untuk mentahdzir ummat dari jalan-jalan itu agar manusia tidak akan masuk dan menuju kepada jalan-jalan itu jika kita memperingatkan ummat darinya. Adapun kalau kita diam, niscaya akan terbentuklah jalan-jalan itu dan manusia akan berpecah belah, setiap hari berkelompok-kelompok. Sedangkan kewajiban kita semua adalah berada pada satu barisan dan memperingat-kan ummat dari Ahlul Bid’ah. Dan temasuk dari sebab persatuan adalah memperingatkan ummat akan bahayanya Ahlul Bid’ah.
= = = = = = = 000 = = = = = = =
1) Beliau adalah salah seorang Murid Asy-Syaikh Abu Muhammad Robi’ bin Hadi Al-Madkholiy hafizahullah. Pengelola www.rabee.net dan www.sahab.net/sahab . Beliau adalah seorang da’I yang tinggal di Kuwait.
http://ibnusarijan.blogspot.com/search/label/Archive%20Ihya%27ut%20Turots/

Copas dari : http://tauhiddansyirik.wordpress.com/2011/10/04/membongkar-kedok-ihya%E2%80%99ut-turots-dan-jaringannya/#more-817

Selasa, 25 Oktober 2011

Sudah Saatnya Kita Bangkit

oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Abdul Mu’thi Al-Maidani

Dalam kesempatan yang mulia ini, kita memanjatkan puji syukur kepada Allah yang masih menganugerahkan kepada kita, kesempatan untuk tetap mengecap nikmat Allah yaitu menuntut ilmu.
Sesungguhnya majelis-majelis Ahlus Sunnah yang dipenuhi oleh kaum muslimin dalam rangka menuntut ilmu tentang agama Allah, inilah yang ditakuti oleh musuh-musuh Islam. Karena majelis-majelis ilmu yang digelar oleh Ahlus Sunnah merupakan kelanjutan dari majelis-majelis para nabi. Di sana diajarkan tentang wahyu Allah yang berupa Al Quran dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sehingga orang-orang yang keluar dari majelis-majelis ahlus sunnah mampu membawa pengetahuan tentang agama Allah, penambahan iman, dan kekuatan di dalam memegang As Sunnah. Maka lahirlah dari majelis-majelis ilmu ini orang-orang yang militan terhadap agama Allah.
Berkata Sahl bin Abdillah At Tusturi rahimahullah:
من أراد أن ينظرإلى مجالس الأنبياء فلينظرإلى مجالس العلماء
“Barangsiapa yang ingin melihat kepada majelis-majelis para nabi ‘alaihimus shalaatu was salaam, maka silahkan dia melihat kepada majelis-majelis para ulama”.
Apa yang menyebabkan majelis-majelis para ulama disamakan dengan majelis-majelis para nabi? Jawabannya, karena majelis-majelis itu sama-sama mengajarkan tentang agama dan hukum Allah. Oleh sebab itu musuh-musuh Islam sangat tidak senang dan selalu membuat makar siang malam agar para pemuda Islam tidak memenuhi majelis-majelis Ahlus Sunnah yang mengajarkan tentang Kitabullah dan Sunnah Rasulullah.
Demikian pula ahlul bid’ah. Mereka punya andil besar dalam mengkaburkan dakwah Ahlus Sunnah. Mereka selalu menebarkan berbagai fitnah untuk menjauhkan para pemuda dari majelis-majelis ilmu yang digelar oleh Ahlus Sunnah. Mereka punya kepentingan, ambisi, dan tendensi tertentu yang mendorong mereka untuk melarikan para pemuda dari majelis-majelis Ahlus Sunnah. Sebab dengan keberadaan majelis-majelis Ahlus Sunnah, para pemuda Islam tidak lagi menghiraukan dakwah mereka, tidak lagi gampang dibodohi oleh mereka, dan tidak lagi mudah diperalat oleh mereka. Melalui majelis-majelis Ahlus Sunnah, mereka mendengarkan pelajaran-pelajaran tentang Al Quran dan Sunnah Rasulullah yang bersih dan lepas dari segala kefanatikan, lepas dari segala kepentingan, lepas dari segala nuansa politik yang kotor, dan segala ambisi para tokoh yang licik dan jahat. Inilah yang sesungguhnya menjadi momok bagi ahlul bathil baik dari kalangan orang-orang kafir maupun mubtadi’ah.
Amerika dan sekutunya sangat tidak senang terhadap dakwah Ahlus Sunnah. Maka seperti itu pula ahlul bid’ah. Tidak jauh kemungkinan bahwa berbagai aliran sesat dan menyimpang dari Islam yang murni, sengaja dipelihara oleh musuh-musuh Islam untuk menjauhkan para pemuda islam dari dakwah Ahlus Sunnah dan Sunnah Rasulullah. Tidak jauh kemungkinan bahwa yang membuat semakin keruh kondisi perpecahan, perselisihan, dan pertikaian dalam agama ini adalah andil dan campur tangan Amerika beserta sekutu-sekutunya yang memperalat ahlul bathil dan ahlul bid’ah untuk merusak dakwah Islam, sehingga para pemuda Islam disibukkan dengan berbagai aliran, pemahaman, dan pemikiran yang sesat lagi menyimpang. Sebagaimana hal ini, pernah dinyatakan oleh guru kami yang mulia As-Syaikh Muqbil Al-Wadi’I -semoga Allah merahmati beliau dengan rahmat yang luas-.
Kita menandaskan perkara ini, dikarenakan orang-orang kafir tidak pernah diam dan rela terhadap kaum muslimin. Mereka mengerti bahwa sesungguhnya bahaya laten yang paling mengerikan adalah ketika para pemuda Islam mulai kembali mempelajari Al Quran dan As Sunnah dengan pemahaman salaful ummah. Mereka takut bila para pemuda islam kembali membongkar kitab-kitab para ulama terdahulu, seperti kitab-kitab Imam Malik, imam Syafi’i, imam Ahmad, imam Al-Bukhori, imam Muslim, dan para ulama yang lainnya. Mereka tidak ingin para pemuda islam kembali kepada generasi yang terdahulu. Padahal kebaikan itu sebagaimana yang dinyatakan oleh Imam Malik rahimahullah:
لن يصلح آخر هذه الأمة إلا بما صلح به أولها
“Tidak akan baik generasi akhir umat ini kecuali dengan perkara yang membuat baik generasi pendahulunya.”
Demi kepentingan merusak pemahaman Islam ditengah-tengah kaum muslimin, orang-orang kafir mendirikan berbagai sekolahan, lembaga pendidikan, dan perguruan tinggi,baik formal atau non formal, yang dengan sengaja mendalami Islam guna merusaknya. Mereka berhasil menguasai literatur-literatur Islam. Banyak manuskrip yang masih dalam bentuk tulisan tangan para ulama Ahlus Sunnah berada di negeri-negeri mereka dan dijaga ketat oleh mereka. tidak sembarang orang bisa mengambil dan memanfaatkannya. Bahkan jika kaum muslimin sendiri ingin menggunakan literatur-literatur itu terpaksa harus membayar kepada mereka. Itu pun hanya mendapatkan kopiannya saja. Padahal siapa yang lebih berhak terhadap referensi-referensi tadi?
Sekian banyak kitab para ulama Ahlus Sunnah berada di tangan mereka. Mereka berupaya mempelajari bidang-bidang disiplin keilmuwan Islam dan mendalami kitab-kitab para ulama Ahlus Sunnah. Mereka punya sekolah-sekolah, lembaga-lembaga pendidikan, dan perguruan-perguruan tinggi yang langsung mendidik kader-kader untuk mempelajari sekaligus merusak Islam. Mereka mempelajari Islam dengan harapan bisa membuat kekacauan, pengkaburan, dan pemahaman yang keliru terhadap Islam. Mereka mempelajari Al Quran dengan berbagai tafsirnya dan kitab-kitab hadits dengan berbagai penjelasannya. Setelah itu, mereka berusaha mencari perkara-perkara samar yang kira-kira bisa dipakai sebagai senjata makan tuan terhadap kaum muslimin. Syubhat-syubhat mereka yang tajam dengan gampang mampu menembus jantung-jantung kaum muslimin yang lemah iman dan ilmu agamanya.
Orang-orang yang masuk ke dalam sekolah-sekolah, lembaga-lembaga pendidikan, dan perguruan-perguruan tinggi mereka ini, akan lulus sesudah berstatus sebagai zindiq atau Munafik. Merekalah para orientalis yang merusak Islam. Subhanallah, ternyata mempelajari Al-Quran dan As-Sunnah bila tidak dengan aqidah dan niat yang benar, tidak akan menggiring kepada hidayah Allah kecuali bagi siapa yang dirahmati oleh Allah.
Salah satu kisah yang menjadi pukulan berat dan telak atas musuh-musuh islam adalah peristiwa yang dialami oleh seorang ulama besar Ahlus Sunnah yang bernama Muhammad Khalil Harras rahimahullah. Insya Allah kebanyakan penuntut ilmu mengenal beliau walaupun melalui tulisan-tulisannya. Di antara karangan beliau adalah kitab “syarhul ‘Aqidatil Waasithiyyah” dan banyak lagi yang lainnya.
Sesungguhnya beliau rahimahullah adalah seorang profesor dalam bidang ilmu kalam, filsafat, di Universitas Al Azhar, Mesir. Beliau ditugaskan secara khusus oleh pembimbingnya untuk meneliti seluruh karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah yang membantah kebatilan filsafat ahlul kalam. sampai saat itu bahkan saat ini, bantahan syaikhul islam belum pernah terjawab oleh mereka. Syaikh Muhammad Kholil Harras karena kejeniusan dan kecerdasannya diminta untuk mempelajari kitab-kitab Syaikhul Islam, yang nantinya akan digunakan untuk menyerang kembali pemahaman-pemahaman yang diajarkan oleh syaikhul Islam. Maka beliau rahimahullah mulai mempelajari satu per satu dari kitab-kitab Syaikhul Islam.
Ternyata Allah berkehendak lain terhadap beliau. Allah takdirkan bahwa dengan mempelajari, mendalami, memeriksa dan meneliti kitab-kitab Syaikhul Islam rahimahullah, justru beliau mendapat petunjuk kepada kebenaran pemahaman Ahlus Sunnah. Akhirnya, beliau benar-benar mengetahui bagaimana kebenaran ahlus sunnah dalam bidang aqidah, manhaj, dan yang lainnya, terlebih khusus dalam masalah nama-nama dan sifat-sifat Allah. Sehingga Asy Syaikh Muhammad Khalil Harras rahimahullah kembali kepada jalan yang haq, dakwah Ahlus Sunnah, dan meninggalkan pemahamannya yang semula. Beliau mengikrarkan bahwa dirinya kembali kepada pemahaman yang dibawa oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah, yaitu pemahaman Ahlus Sunnah yang berdasarkan Al Quran dan As Sunnah.
Beliau tinggalkan gurunya dan terus giat mempelajari serta meneliti kitab-kitab Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, sampai akhirnya beliau dianggap sebagai ulama yang kokoh dan mapan dalam bidang aqidah secara khusus. Beliau sangat mengerti tentang pemahaman yang dikemukan oleh Syaikhul Islam, yang sekaligus merupakan madzhab Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dalam bidang aqidah, terlebih khusus mengenai nama-nama dan sifat-sifat Allah.
Selanjutnya beliau berpindah ke negara Saudi Arabia. Di negeri ini, lebih memungkinkan bagi beliau untuk mempelajari dan mengembangkan kemampuan ilmiah tentang pemahaman Ahlus Sunnah, sekaligus menyebarkan ilmu dan dakwah Ahlus Sunnah yang telah dibukakan oleh Allah kepada beliau.
Banyak karangan beliau dalam bidang aqidah dan rata-rata karya tulis beliau sangat baik. Diantaranya “Syarhul ‘Aqidatil Waasithiyyah”, yang selama ini selalu menjadi rujukan bagi para ulama dan penuntut ilmu dalam melihat pemahaman yang dimaksud oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitabnya “Al ‘Aqidatul Waasithiyyah”. Kitab beliau yang lain yaitu syarh (penjelasan) terhadap “An-Nuuniyyah” karya Ibnul Qayyim rahimahullah. Disamping itu, beliau rahimahullah juga membuka majelis ilmu untuk mengajarkan aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Majelis ilmu yang beliau adakan mampu melahirkan ulama yang kokoh dalam bidang aqidah seperti beliau. Di antara murid-murid beliau yang terkenal dan dianggap sebagai salah seorang ulama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah yang mapan dalam bidang aqidah, yaitu Asy Syaikh Muhammad Aman Al Jami rahimahullah.
Demikianlah sesungguhnya majelis-majelis ilmu yang digelar oleh Ahlus Sunnah, ternyata sangat ditakuti oleh musuh-musuh Islam. Suatu hal yang masih saya ingat dari ucapan guru kami As-Syaikh Muqbil rahimahullah, di mana beliau tak jarang mengatakan kepada para muridnya: “Ya ikhwan, demi Allah, sesungguhnya Amerika dan sekutu-sekutunya tidak takut kepada tank-tank baja dan segala persenjataan yang kita miliki. Yang sangat ditakuti oleh musuh-musuh Islam adalah majelis-majelis ilmu yang seperti ini. Karena majelis-majelis ilmu ini yang akan melahirkan orang-orang yang mengerti tentang agama Allah, ikhlas, jujur, dan bersungguh-sungguh dalam memperjuangkannya”, atau sebagaimana yang diucapkan oleh beliau rohimahullah.
Adapun orang-orang yang selalu berteriak dengan yel-yel jihad. Padahal yang mereka maksud dengan jihad adalah memberontak atau kudeta terhadap pemerintah-pemerintah kaum muslimin dan mengacaukan stabilitas keamanan mereka. Demi Allah sesungguhnya mereka tidak ditakuti oleh musuh-musuh Islam. Tanpa mereka sadari, justru mereka telah menjadi jongos, kaki tangan, serta antek-antek bagi musuh-musuh Islam. Islam dan kaum muslimin sangat dirugikan dengan keberadaan mereka. Akibat aksi-aksi teror mereka yang arogan dan tidak sesuai dengan syariat islam di berbagai negeri, orang-orang kafir akan dengan gampang menjelek-jelekan Islam. “Coba lihat agama Islam yang haus akan darah. Coba lihat agama Islam yang selalu membuat kekacauan. Coba lihat kaum muslimin, mereka adalah para teroris”. Masih banyak lagi tuduhan-tuduhan keji yang dilemparkan kepada Islam dan kaum muslimin karena tindakan-tindakan bodoh dan gegabah yang mereka lakukan itu.
Sehingga di sebagian negara seperti Inggris, kita dapatkan seorang yang memiliki janggut panjang sampai ke dadanya, berorasi dengan menyuarakan “Jihad!! Jihad!!”, di televisi secara bebas. Tak ada pihak penguasa yang menghiraukan, menggubris, terlebih lagi menangkapnya. Hal itu terjadi berulang kali, sebagaimana yang diberitakan kepada saya oleh sebagian ikhwan salafi inggris yang insyaallah terpercaya. Inilah diantara indikasi yang menguatkan asumsi bahwa mereka itu justru menjadi jongos, kaki tangan, dan antek-antek bagi musuh-musuh Islam. Sebab musuh-musuh Islam mengetahui dengan baik bahwa yang dilakukan kaum pergerakan itu dapat merusak agama kaum muslimin dan tidak memperbaikinya.
Tetapi mereka, seperti pepatah orang kita, lempar batu sembunyi tangan. Mereka balik menuduh bahwa Ahlus Sunnah yang telah menjadi kaki tangan Amerika dan musuh terhadap dakwah Islam. Mereka mengatakan, “Sesungguhnya Ahlus Sunnah itu dibantu oleh Amerika atau dibantu oleh Israil”.
Na’uuzubillahi min zalik.
Ini pula yang disebut dalam pepatah arab yang artinya:
“Dia melemparku dengan penyakitnya kemudian dia berlalu”.
Oleh karena itu, hendaklah para pemuda dan pemudi islam menyadari kondisi ini. Sudah saatnya mereka bergegas utuk mempelajari islam yang benar dengan sumber yang terpercaya, yaitu Al-Quran dan As-Sunnah dengan pemahaman Salaful Ummah. Marilah kita bangkit dari kelalaian, kelengahan, dan keteledoran kita selama ini. Hendaknya kita tinggalkan segala perkara yang tidak bermanfaat dan kesia-siaan. Singsingkan lengan baju kita untuk berjibaku dengan ilmu dan meninggalkan segala perdebatan yang tidak bermanfaat. Kita yakin sepenuhnya bahwa Allah akan membela agama dan para wali-Nya. Tak ada yang mampu membongkar kedok kebathilan kecuali hanya Allah, melalui kemapanan ilmu dan hujjah yang diberikan-Nya kepada orang-orang mulia dari para hamba-Nya. Dahulu para Salaf kita yang baik, menyingkirkan segala kesesatan dengan kekuatan ilmu dan hujjah bukan dengan kekuatan lisan semata. Akhirnya, kita memohon semoga Allah mengokohkan hati-hati kita diatas islam.
Wallahu a’lam bish shawab

Sumber : http://referensiislam.wordpress.com/2008/01/18/sudah-saatnya-kita-bangkit/

Sabtu, 26 Maret 2011

Kebodohan Merusak Kebersamaan

Penulis: Al-Ustadz Muhammad Umar As-Sewed
.: :.
Orang-orang yang cerdas dan berilmu niscaya mengetahui betapa pentingnya kebersamaan. Sehingga mereka benar-benar menjaga kebersamaan dalam jamaah kaum muslimin dan penguasa (pemerintah)-nya. Adapun orang-orang yang bodoh, sama sekali tidak mengerti betapa pentingnya kehidupan berjamaah dengan satu penguasa. Bahkan mereka tidak mengerti mana yang lebih banyak antara satu dan sepuluh. Yakni, mana yang lebih besar antara korupsi, kolusi, atau nepotisme (KKN) dengan pertumpahan darah kaum muslimin dalam perang saudara.

Seorang yang berilmu mengetahui bahwa dengan mengikuti bimbingan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut penerapannya yang dicontohkan salafus shalih, pasti kaum muslimin akan terbimbing ke jalan yang terbaik. Maka, ia akan menghadapi penguasa yang dzalim dengan petunjuk dan bimbingan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sedangkan orang-orang yang bodoh berjalan bersama emosi dan hawa nafsunya, tanpa meminta bimbingan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka merasa lebih pandai dan lebih cerdas dari para nabi dan para ulama yang merupakan para pewarisnya. Merekalah kaum reaksioner Khawarij, yang selalu menyebabkan petaka dan bencana di setiap zaman. Mereka tidak memperbaiki keadaan –seperti pengakuan mereka– tetapi justru menghancurkan kebersamaan.

Banyak tulisan-tulisan mereka yang sampai kepada tangan penulis, dalam bentuk surat, selebaran, ataupun makalah-makalah. Hampir seluruhnya berisi “dalil-dalil” dan “bukti-bukti” tentang kafirnya penguasa, yang kemudian berujung menghalalkan darah mereka. Tentu saja dengan nama samaran, alamat palsu, dan penerbit yang tidak jelas. Namun seperti CD yang diputar ulang, isinya tetap sama seperti ucapan Khawarij yang pertama: “Siapa yang tidak berhukum dengan hukum Allah maka ia kafir.”

Tentu saja jawaban kita Ahlus Sunnah seperti jawaban Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dan para shahabat yang lain: “Kalimat yang haq, namun yang dimaukan adalah kebatilan.” Yakni, ayat-ayat dan hadits-hadits dalam tulisan mereka adalah kalimat-kalimat yang haq dan kita tidak membantahnya. Namun, apa yang dimaukan dengannya?

Diriwayatkan dari ‘Ubaid bin Rafi’ bahwa ketika kaum Khawarij mengatakan “Tidak ada hukum kecuali hukum Allah”, Ali radhiyallahu ‘anhu pun berkata: “Kalimat yang haq, namun yang mereka maukan adalah kebatilan. Sungguh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menggambarkan kepada kami suatu kaum, maka kamipun telah mengenalinya. Yaitu sekelompok orang yang berbicara kebenaran, namun tidak melewati ini –sambil mengisyaratkan ke tenggorokannya–. Mereka adalah makhluk-makhluk yang paling dibenci Allah Subhanahu wa Ta’ala….” (HR. Muslim, Kitabuz Zakah juz 7 hal. 173)

Kalau saja mereka menulis dalil-dalil tersebut dalam rangka memperingatkan dan mengancam, maka kamipun sepakat. Karena Al-Imam Ahmad rahimahullahu menyatakan dalam masalah wa’id (ancaman): “Biarkanlah ancaman seperti apa adanya, agar manusia menjadi takut.” Namun ketika men-ta’yin (menentukan si Fulan atau si Allan) kafir, tentu kita harus merincinya. Karena pada dalil-dalil itu bisa jadi yang dimaksud kufur ashghar (kafir kecil) atau kufur akbar (kafir besar), kafir amali atau kafir i’tiqadi, dan lain-lain. Namun yang kita bahas kali ini adalah kebodohan mereka dalam penerapan dalil-dalil tersebut serta akibat dari kebodohan mereka.

Adapun kebodohannya, sangat jelas sekali. Karena mereka menerapkan dalil-dalil kepada orang-orang yang masih shalat, berpuasa, mengeluarkan zakat dan pergi haji. Bukankah di antara hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mendasar adalah ibadah tersebut? Berarti mereka –paling tidak– masih berhukum dengan hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam perkara-perkara yang sangat penting tersebut, yang merupakan dasar-dasar keislaman. Oleh karena itulah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kita untuk memerangi penguasa yang masih shalat.

Diriwayatkan dari ‘Auf bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

خِيَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِيْنَ تُحِبُّوْنَهُمْ وَيُحِبُّوْنَكُمْ، يُصَلُّوْنَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّوْنَ عَلَيْهِمْ، وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِيْنَ تُبْغِضُوْنَهُمْ وَيُبْغِضُوْنَكُمْ وَتَلْعَنُوْنَهُمْ وَيَلْعَنُوْنَكُمْ. قِيْلَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، أَفَلاَ نُنَابِذُهُمْ بِالسَّيْفِ؟ فَقَالَ: لاَ مَا أَقَامُوا فِيْكُمُ الصَّلاَةَ، وَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْ وُلاَتِكُمْ شَيْئًا تَكْرَهُوْنَهُ فَاكْرَهُوْا عَمَلَهُ، وَلاَ تَنْزِعُوْا يَدًا مِنْ طَاعَةٍ

“Sebaik-baik penguasa kalian adalah yang kalian mencintai mereka dan mereka mencintai kalian, yang kalian mendoakan (kebaikan, pent.) mereka dan mereka mendoakan kalian. Dan sejelek-jelek penguasa kalian adalah yang kalian membenci mereka dan mereka membenci kalian, serta kalian melaknat mereka dan mereka melaknat kalian.” Dikatakan:”Wahai Rasulullah, tidakkah kita perangi saja mereka dengan pedang?” Beliau bersabda: “Jangan selama mereka masih menegakkan shalat di tengah-tengah kalian. Jika kalian melihat dari penguasa kalian sesuatu yang tidak kalian sukai, bencilah perbuatannya namun jangan mencabut tangan kalian dari ketaatan.” (HR. Muslim dalam Shahih-nya juz 3 hal. 1481 cet. Daru Ihya`ut Turats Al-‘Arabi, Beirut cet. 1, dari jalan Yazid bin Yazid, dari Zuraiq bin Hayyan, dari Muslim bin Qaradhah, dari ‘Auf radhiyallahu ‘anhu)

Ibnu ‘Allan rahimahullah wa ghafarallahu lahu (semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmati dan mengampuni beliau) berkata: “Ucapan beliau ‘selama mereka menegakkan shalat di tengah-tengah kalian’ adalah larangan untuk memerangi mereka selama mereka masih menegakkan shalat. Karena shalat merupakan tanda-tanda keislaman mereka. Sebab perbedaan antara kekafiran dan keislaman adalah shalat. Yang demikian karena kekhawatiran akan timbulnya fitnah dan perpecahan di kalangan kaum muslimin, yang tentunya lebih parah kemungkarannya daripada bersabar terhadap kejelekan dan kemungkaran yang muncul dari penguasa tersebut.” (Dalilul Falihin li Thuruqi Riyadhis Shalihin juz 1 hal. 473 cet. Darul Kutub Al-Ilmiyyah, Beirut)

Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Mereka (Khawarij) adalah sejahat-jahat makhluk, karena membawa ayat-ayat yang turun tentang orang kafir kemudian diterapkannya kepada kaum muslimin.” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari rahimahullahu, Kitab Istitabatil Murtaddin juz 8 hal. 51)

Maka jangan teperdaya dengan banyaknya ucapan dari para ulama salaf, Ahlus Sunnah dan Ahlul Hadits, yang dinukil dalam tulisan-tulisan mereka. Karena semua itu hanya sesuatu yang dipakai untuk menutupi kebatilan mereka. Para ulama berbicara tentang bahayanya berhukum dengan selain hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam bentuk ancaman, kemudian mereka menyimpulkannya dengan pengkafiran kaum muslimin dan penghalalan darah secara ta’yin!

Terlebih kebanyakan mereka berusia muda serta bodoh karena minimnya kedewasaan mereka. Sehingga mereka hanya mengandalkan semangat dan ‘otot’ saja, tanpa dilandasi oleh ilmu serta pertimbangan yang matang. Hal seperti ini pun digambarkan dalam riwayat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai berikut:

سَيَخْرُجُ قَوْمٌ فِي آخِرِ الزَّمَانِ، أَحْدَاثُ اْلأَسْنَانِ سُفَاهَاءُ اْلأَحْلاَمِ يَقُوْلُوْنَ مِنْ قَوْلِ خَيْرِ الْبَرِيَّةِ لاَ يُجَاوِزُ إِيْمَانُهُمْ حَنَاجِرَهُمْ يَمْرُقُوْنَ مِنَ الدِّيْنِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ، فَأَيْنَمَا لَقِيْتُمُوْهُمْ فَاقْتُلُوْهُمْ فَإِنَّ فِي قَتْلِهِمْ أَجْرًا لِمَنْ قَتَلَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Akan keluar di akhir zaman, suatu kaum yang masih muda umurnya tapi bodoh pemikirannya. Mereka berbicara seperti perkataan manusia yang paling baik. Keimanan mereka tidak melewati tenggorokannya. Mereka keluar dari agama ini seperti keluarnya anak panah dari buruannya. Di mana saja kalian temui mereka, bunuhlah mereka. Sesungguhnya membunuh mereka akan mendapatkan pahala pada hari kiamat.” (HR. Muslim)

Al-Imam Al-Ajurri rahimahullahu berkata tentang Khawarij: “Tidak ada perselisihan di antara para ulama yang dahulu maupun sekarang bahwa Khawarij adalah kaum yang sangat jelek. Mereka bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, walaupun mereka melakukan shalat, puasa, dan bersungguh-sungguh dalam beribadah.”

Maka, akibatnya sangat fatal sekali. Dengan kebodohannya mereka mengkafirkan penguasa berikut aparaturnya, pendukungnya serta semua yang tidak mengkafirkan mereka. Kemudian mereka menghalalkan darahnya serta membolehkan pemberontakan dan praktik-praktik teror. Ini sangat fatal, karena mereka menjadikan citra Islam demikian menakutkan di mata manusia. Akhirnya islamofobia menjalar di masyarakat. Sungguh para pengacau Khawarij memikul dosa besar atas rusaknya gambaran Islam yang dibawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini. Padahal sesungguhnya diutusnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membawa Islam ini adalah sebagai rahmat bagi seluruh alam.

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ

“Dan tidaklah Kami mengutusmu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (Al-Anbiya`: 107)

Karikatur orang-orang kafir Denmark –la’natullah ‘alaihim– memang sangat menyakitkan. Namun apakah pemicu perbuatan mereka kalau bukan perbuatan para teroris banci?!

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya berperang melawan orang-orang kafir namun mereka tetap berwibawa di hadapan kawan dan lawan. Mengapa? Karena perang mereka sangat gentle. Memerangi kafir harbi dan tidak memerangi kafir dzimmi, mu’ahad, dan utusan-utusan. Berhadapan muka, bukan dari belakang. Membunuh tentara mereka dan tidak membunuh warga sipil, wanita, dan anak-anak.

Diriwayatkan bahwa pada suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berjalan bersama pasukannya. Kemudian beliau melihat orang-orang mengerumuni sesuatu, maka beliau mengutus seseorang untuk melihatnya. Ternyata didapati seorang wanita yang terbunuh oleh pasukan terdepan yang dipimpin oleh Khalid bin Walid radhiyallahu ‘anhu, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

انْطَلِقْ إِلَى خَالِدِ بْنِ الْوَلِيْدِ فَقُلْ لَهُ إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُكَ يَقُوْلُ لاَ تَقْتُلَنَّ ذُرِّيَّةً وَلاَ عَسِيْفًا

“Pergilah kepada Khalid dan katakanlah kepadanya: ‘Sesungguhnya Rasulullah melarang engkau membunuh dzurriyyah (wanita dan anak-anak) dan pekerja (warga sipil)’.” (HR. Abu Dawud)

Dalam riwayat lain, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قُلْ لِخَالِدٍ لاَ تَقْتُلَنَّ امْرَأَةً وَلاَ عَسِيْفًا

“Katakan kepada Khalid: ‘Jangan ia membunuh wanita dan pekerja’.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Ath-Thahawi. Lihat Ash-Shahihah karya Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu, 6/314)

Dengan kata lain, kebodohan kaum reaksioner Khawarij telah menyuburkan berbagai bentuk kerusakan, di antaranya: meruntuhkan kebersamaan kaum muslimin, pertumpahan darah sesama muslim, kekacauan, dan yang lebih parah lagi adalah rusaknya citra Islam. Tidak heran jika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan mereka dengan gambaran-gambaran yang sangat jelek dan mengerikan. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebut mereka sebagai anjing-anjing neraka, sejelek-jelek bangkai di bawah naungan langit, dan lain-lain.

Diriwayatkan dari Abu Ghalib rahimahullahu bahwa ia berkata: “Pada saat aku berada di Damaskus, tiba-tiba didatangkanlah 70 kepala dari tokoh-tokoh Haruriyyah (Khawarij) dan dipasang di tangga-tangga masjid. Pada saat itu datanglah Abu Umamah –sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam– kemudian masuk ke masjid. Beliau shalat dua rakaat, lalu keluar menghadap kepala-kepala tadi. Beliau memandangnya beberapa saat sambil meneteskan air mata, kemudian berkata: “Apa yang dilakukan oleh iblis-iblis ini terhadap ahlul Islam?” (tiga kali diucapkan). Dan beliau berkata lagi: “Anjing-anjing neraka.” (juga tiga kali diucapkan). Kemudian beliau berkata:

هُمْ شَرُّ قَتْلَى تَحْتَ أَدِيْمِ السَّمْاءِ، خَيْرُ قَتْلَى مَنْ قَتَلُوْهُ

“Mereka adalah sejelek-jelek bangkai di bawah naungan langit, dan sebaik-baik orang yang terbunuh adalah orang yang dibunuh oleh mereka.” (tiga kali)

Kemudian beliau menghadap kepadaku seraya berkata: “Wahai Abu Ghalib, sesungguhnya engkau berada di negeri yang banyak tersebar hawa nafsu dan banyak kekacauan.” Aku menjawab: “Ya.” Beliau berkata: “Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala melindungimu dari mereka.” Aku katakan: “Tetapi mengapa engkau menangis?” Beliau menjawab: “Karena kasih sayangku kepada mereka, sesungguhnya mereka dulunya adalah golongan Islam (di atas Islam yang benar).” Aku bertanya kepadanya: “Apakah yang kau sampaikan itu sesuatu yang kau dengar dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam atau sesuatu yang kau sampaikan dari pendapatmu sendiri?!” Beliau menjawab: “Kalau begitu, berarti aku sangat lancang jika aku menyampaikan apa yang tidak aku dengar dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sekali, dua kali, tiga kali, dan seterusnya –hingga beliau menyebutnya sampai tujuh kali. (Hadits hasan, diriwayatkan oleh Al-Ajurri dalam Asy-Syari’ah hal. 156)

Diriwayatkan pula dari Sa’id bin Jahman, beliau berkata: “Saya masuk menemui Ibnu Abi Aufa dalam keadaan beliau telah buta. Aku memberi salam kepadanya. Ia pun menjawab salamku, kemudian bertanya: “Siapakah engkau ini?” Aku menjawab: “Saya Sa’id bin Jahman.” Dia bertanya lagi: “Apa yang terjadi pada ayahmu?” Aku menjawab: “Dia dibunuh oleh sekte Azariqah (salah satu sekte Khawarij).” Maka Ibnu Abi Aufa mengatakan tentang Azariqah: “Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memerangi Azariqah. Sungguh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyampaikan kepada kami:

أَلآ إِنَّهُمْ كِلاَبُ أَهْلِ النَّارِ

“Ketahuilah bahwa mereka adalah anjing-anjing penduduk neraka.”

Aku bertanya: “Apakah sekte Azariqah saja atau seluruh Khawarij?” Beliau menjawab: “Seluruh Khawarij.” (As-Sunnah, Ibnu Abi ‘Ashim rahimahullahu hal. 428 dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Zhilalul Jannah)

Sebaliknya, kita lihat orang-orang yang cerdas dan berilmu yaitu para shahabat radhiyallahu 'anhum ketika mengalami masa-masa fitnah. Di antaranya Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu yang –konon katanya1– diusir oleh khalifah ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu. Maka beliau pergi ke Syam. Ternyata di Syam pun terjadi perselisihan dengan gubernurnya yaitu Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu. Ia pun keluar dari Syam dan tinggal di desa terpencil yang bernama Rabadzah. Apa sikap beliau? Apakah ia bergabung bersama Khawarij memerangi penguasa untuk membela pribadinya?

Sungguh itulah dugaan kaum reaksioner Khawarij kepada Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu. Tetapi Abu Dzar tidak sebodoh yang mereka sangka. Ketika mereka mendatangi Rabadzah dan mengatakan kepadanya: “Kibarkanlah bendera untuk kami! Niscaya kami akan menjadi tentaramu melawan khalifah ‘Utsman!” Abu Dzar pun menjawab: “Demi Allah, kalaupun ‘Utsman mengusirku ke timur ataupun ke barat, niscaya aku pun akan mendengar dan taat.” (Ath-Thabaqat Al-Kubra, Ibnu Sa’d, juz 4 hal. 227, melalui kitab Mauqif Ash-Shahabah fil Fitnah karya Dr. Muhamad Amhazun juz 1 hal. 457)

Dalam riwayat Ibnu Abi Syaibah rahimahullahu, Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu berkata: “Wahai ahlul Islam, jangan kalian tawarkan kejelekan kalian kepadaku! Jangan kalian jatuhkan kehormatan penguasa. Karena sesungguhnya barangsiapa menghinakan penguasa (muslim) maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menghinakannya.” (Mushannaf, juz 15 hal. 227 melalui kitab Mauqif Ash-Shahabah fil Fitnah oleh Dr. Muhamad Amhazun juz 1 hal. 457)

Jangan kita mengatakan bahwa sikap tersebut khusus karena penguasanya adalah seorang shahabat yang mulia, ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu. Jangan bodoh atau berpura-pura bodoh! Bukankah pelajaran yang kita ambil adalah dari keumuman lafadznya, yaitu “penguasa muslim”? Bahkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan akan ada penguasa yang hatinya seperti hati setan dalam tubuh manusia, tidak mengikuti As-Sunnah. Namun tetap beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menasihatkan untuk sabar dan menahan diri selama masih shalat (lihat kembali rubrik Nasihat edisi lalu).

Sungguh kita tidak sedang membela para penguasa. Tidak pula menyamakan penguasa kita dengan ‘Utsman bin ‘Affan. Jauh sekali perbedaan antara keduanya. Tetapi kita mengajak kaum muslimin untuk menghitung dengan hitungan hikmah dan As-Sunnah. Agar kita tidak terjerumus dalam kemungkaran yang lebih besar, menyalakan api peperangan sesama kaum muslimin, mengacaukan keamanan yang akan merusak kehidupan kaum muslimin dan lain-lain, dengan mengatasnamakan dakwah dan jihad. Wallahul musta’an.


1 Saya katakan “konon katanya”, karena ternyata riwayatnya tidaklah benar. Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu tidaklah diusir, melainkan menyendiri atas kemauannya sendiri, karena perbedaan pendapat yang terjadi antara beliau dengan beberapa shahabat yang lain.

Sumber:
http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=542

Kamis, 17 Maret 2011

Bukti Cinta Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah seorang rasul pilihan Allah Subhanahu wa Ta’ala, manusia terbaik yang Allah Subhanahu wa Ta’ala pilih untuk menyampaikan risalah-Nya kepada segenap manusia, membimbing dan menunjukkan mereka kepada cahaya Islam, iman, serta ketaatan kepada-Nya.

Dengan sifat amanah yang melekat pada diri beliau shallallahu ‘alaihi wasallam , ajaran dan risalah Islam ini telah tersampaikan kepada umat dengan lengkap dan sempurna. Tidak ada satu kebaikan pun, kecuali telah beliau shallallahu ‘alaihi wasallam ajarkan kepada umatnya; dan tidak ada satu kejelekan pun, kecuali beliau shallallahu ‘alaihi wasallam telah memperingatkan umatnya agar berhati-hati dan menjauh darinya.

Ini semua merupakan nikmat besar yang Allah Subhanahu wa Ta’ala karuniakan kepada hamba-Nya, dengan diutusnya seorang rasul untuk mengajak dan membimbing mereka kepada jalan yang lurus, jalan menuju kemenangan dan kemuliaan di dunia dan akhirat.

Oleh karena itu, sudah menjadi kewajiban bagi setiap mukmin untuk mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan kadar kecintaan yang lebih besar daripada kecintaannya kepada orang tuanya sendiri, anaknya, dan manusia seluruhnya. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ.

“Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian, hingga dia menjadikan aku sebagai seorang yang lebih dia cintai daripada orang tuanya, anaknya, dan manusia seluruhnya.” [Muttafaqun ‘Alaihi]

Al-Imam Ibnu Rajab rahimahullah menjelaskan: “Seorang mukmin itu tidaklah menjadi seseorang yang benar-benar beriman sampai dia mendahulukan kecintaannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam daripada kecintaannya kepada seluruh makhluk, dan kecintaan kepada Rasulullah itu mengiringi kecintaan kepada Dzat yang mengutusnya (Allah).” [Jami’ul ‘Ulum wal Hikam]

Allah Subhanahu wa Ta’ala pun mengancam orang-orang yang lebih mementingkan kecintaannya kepada urusan dunia daripada kecintaannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam dengan ancaman akan mendatangkan adzab kepada mereka, sebagaimana dalam firman-Nya Subhanahu wa Ta’ala (artinya):

“Katakanlah (wahai Muhammad): ‘Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, karib keluarga kalian, dan juga harta kekayaan yang kalian usahakan, perniagaan yang kalian khawatirkan kerugiannya, serta tempat tinggal yang kalian sukai lebih kalian cintai daripada Allah dan Rasul-Nya, serta dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah (adzab Allah) sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” [At-Taubah: 24]

Bahkan terhadap dirinya pun, seorang mukmin yang jujur dalam keimanannya akan lebih mendahulukan kecintaannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam daripada diri dan jiwanya sendiri.

Pada suatu ketika, shahabat ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu pernah berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Wahai Rasulullah, sungguh engkau lebih aku cintai daripada segala sesuatu, kecuali diriku sendiri.”

Yakni ‘Umar radhiyallahu ‘anhu benar-benar mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melebihi kecintaannya kepada segala sesuatu. Kecuali dirinya, shahabat  lebih mencintai dirinya sendiri daripada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam .

Ketika mendengar penuturan salah seorang shahabatnya yang mulia tersebut, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda:

لاَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ نَفْسِكَ.

“Tidak (wahai ‘Umar), demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, bahkan hendaknya aku juga menjadi orang yang lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri.”

Setelah mendengar nasehat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut, shahabat ‘Umar radhiyallahu ‘anhu pun mengatakan:

“Sesungguhnya sekarang ini, demi Allah, engkau benar-benar seorang yang lebih aku cintai daripada diriku sendiri.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda:

الآنَ يَا عُمَرُ.

“Sekarang wahai ‘Umar.” [HR. Al-Bukhari]

Yakni sekarang, beliau benar-benar telah merealisasikan cintanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dengan melebihkan kecintaannya kepada beliau daripada kecintaannya kepada siapapun, termasuk terhadap dirinya sendiri.
Bukti Cinta Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah termasuk kewajiban yang paling agung dalam agama ini.” [Ar-Raddu ‘alal Akhna-i, hal. 231]

Tentunya, kecintaan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bukanlah sekedar pengakuan yang hanya digembar-gemborkan saja, namun cinta rasul merupakan sebuah prinsip agung yang membutuhkan bukti dari setiap orang yang mengaku cinta kepada junjungannya tersebut.

Jika dahulu, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masih hidup, para shahabat benar-benar merealisasikan cintanya kepada beliau dengan berjuang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, mengorbankan harta, jiwa, dan bahkan keluarga mereka sendiri untuk menjalankan syariat Islam demi tegaknya agama Allah Subhanahu wa Ta’ala di muka bumi ini. Ketika datang perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka bersegera untuk mengamalkannya, sami’na wa atha’na. Pun ketika mendengar larangan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dari suatu perbuatan tertentu, mereka bersegera untuk meninggalkan dan menjauhi perbuatan tersebut.

Kini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah wafat, namun kewajiban untuk mencintai beliau tetap berlaku bagi umat Islam yang datang sepeninggal beliau hingga hari kiamat. Di antara hal-hal yang bisa dilakukan oleh setiap mukmin untuk membuktikan cintanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah:

1. Menaati perintah dan menjauhi larangan beliau Shalallahu ‘alaihi wa Sallam

Tidak sepatutnya bagi seseorang yang mengaku cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, namun ketika mendengar perintahnya, ia enggan untuk melaksanakannya padahal ia mampu; atau mendengar larangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, namun ia tetap bergelimang dalam perbuatan yang dilarang beliau. Orang yang mengaku cinta Rasul hendaknya menjadi orang pertama yang menaati beliau.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلاَّ مَنْ أَبَى. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ وَمَنْ يَأْبَى؟ قَالَ: مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى.

“Seluruh umatku akan masuk surga, kecuali orang-orang yang enggan. Para shahabat bertanya: ‘Wahai Rasulullah, siapakah orang-orang yang enggan tersebut?’ Beliau menjawab: ‘Barangsiapa yang menaatiku, dia akan masuk surga, dan barangsiapa yang bermaksiat kepadaku, berarti dialah orang yang enggan.” [HR. Al-Bukhari]

2. Membenarkan semua berita yang disampaikan oleh beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, tanpa ada keraguan sedikitpun

Setiap berita yang disampaikan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam , wajib untuk diyakini kebenaran tanpa ada keraguan sedikitpun, baik berita yang beliau sampaikan tersebut tentang peristiwa yang telah terjadi pada masa lampau maupun yang akan datang, bahkan berita tentang peristiwa-peristiwa yang akan terjadi nanti pada hari kiamat dan sesudahnya.

Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam adalah seorang rasul yang sabda-sabdanya berdasarkan wahyu sebagaimana yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan dalam Al-Qur’an (artinya):

“Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” [An-Najm: 3-4]

3. Menjalankan ibadah kepada Allah sesuai dengan bimbingan dan petunjuk beliau Shalallahu ‘alaihi wa Sallam

Semua bentuk ritual ibadah dalam agama ini hendaklah ditunaikan sesuai dengan tuntunan dan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, karena barangsiapa yang mengamalkan suatu ibadah yang tidak sesuai dengan petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka ibadahnya itu akan sia-sia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ.

“Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan yang bukan termasuk bagian dari perintah (petunjuk) kami, maka amalan tersebut tertolak.” [HR. Muslim]

4. Mendahulukan perkataan dan ketentuan syariat beliau daripada perkataan dan pendapat seorang pun selain beliau shallallahu ‘alaihi wasallam

Tidak boleh bagi siapapun untuk meragukan atau bahkan menolak dan meninggalkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam serta ketentuan syariat yang telah beliau tetapkan disebabkan ucapan atau pendapat seseorang.

Allah Subhanahu wa Ta’ala befirman (artinya):

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [Al-Hujurat: 1]

Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata: “Umat Islam telah bersepakat bahwa barangsiapa yang telah jelas baginya sunnah (perkataan dan ketentuan syariat) dari Rasulullah, maka tidak halal baginya untuk meninggalkan sunnah tersebut disebabkan perkataan seseorang.” [Lihat Shifat Shalat Nabi, hal. 50]

Siapapun dia, baik ustadz, kyai, maupun tokoh ulama pun, jika perkataan dan pendapatnya menyelisihi Al-Qur’an dan As-Sunnah (Hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang shahih), maka harus ditinggalkan dan wajib untuk mengikuti apa yang telah disebutkan dalam Kitabullah dan Sunnah (Hadits-hadits) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

5. Mencintai orang-orang yang beliau shallallahu ‘alaihi wasallam cintai

Para pembaca, di antara bentuk kecintaan terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga adalah mencintai orang-orang yang beliau cintai, yaitu para shahabat, baik dari kalangan Muhajirin dan Anshar. Termasuk di antara orang-orang yang beliau shallallahu ‘alaihi wasallam cintai adalah Ahlul Bait beliau shallallahu ‘alaihi wasallam (yang termasuk di dalamnya adalah istri-istri beliau Shalallahu ‘alaihi wa Sallam), dan orang-orang yang senantiasa berpegang teguh dengan sunnah (ajaran) beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Di samping mencintai mereka, hendaknya juga mendoakan kebaikan dan memohon ampunan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk mereka, sebagaimana yang diisyaratkan dalam firman-Nya Subhanahu wa Ta’ala (artinya):

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman, Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” [Al-Hasyr: 10]

6. Berpegang teguh dengan sunnah beliau Shalallahu ‘alaihi wa Sallam

Berikutnya, kewajiban yang harus dijalankan oleh seseorang yang mengaku cinta kepada nabinya shallallahu ‘alaihi wasallam adalah mencintai dan membela sunnah-(ajaran)nya shallallahu ‘alaihi wasallam, serta berpegang teguh dengannya, dan kemudian berupaya untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, sekaligus membenci dan berusaha untuk membersihkan umat ini dari segala bentuk pemikiran, aqidah, akhlaq, mu’amalah dan ritual ibadah dalam agama ini yang menyelisihi ajaran beliau shallallahu ‘alaihi wasallam serta tidak pernah dicontohkan olehnya.

Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah berkata: “Di antara bentuk kecintaan kepada beliau adalah dengan menolong sunnahnya, membela syariatnya, berangan-angan untuk berjumpa beliau semasa hidupnya,  dan kemudian dia mengorbankan harta dan jiwanya demi membela beliau.” [Syarh Shahih Muslim]

7. Bershalawat kepada beliau Shalallahu ‘alaihi wa Sallam

Termasuk bukti kecintaan seorang mukmin terhadap beliau shallallahu ‘alaihi wasallam adalah dengan banyak bershalawat kepadanya shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana yang telah Allah dan Rasul-Nya perintahkan.

Bershalawat kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam termasuk ibadah, maka harus sesuai dengan apa yang telah beliau contohkan, bukan dengan shalawat-shalawat yang tidak ada dasarnya, baik dalam Al-Qur’an maupun Al-Hadits.

Wallahu a’lam bish shawab.
http://www.assalafy.org/mahad/?p=571#more-571

Senin, 28 Februari 2011

Mengenal Ahlussunnah wa Al-Jamaah

Sebelum terjadinya fitnah dengan munculnya berbagai macam bid’ah, perpecahan dan perselisihan dalam ummat ini, ummat islam tidak dikenal kecuali dengan satu nama yaitu Islam. Akan tetapi setelah terjadinya fitnah dan perpecahan, muncullah golongan-golongan sesat yang mana setiap golongan menyerukan dan memprogandakan bid’ah dan kesesatannya dengan nama Islam. Hal ini tentunya menimbulkan kebingungan di tengah-tengah ummat, manakah ajaran Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam yang sebenarnya, yang belum bercampur dengan berbagai bentuk kesesatan, karena semua kelompok dengan beraneka ragam ajaran mereka yang berbeda, semuanya mengaku bahwa merekalah yang berada di atas ajaran Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam yang murni.
Hanya saja Allah Yang Maha Hikmah lagi Bijaksana telah menetapkan suatu keputusan dengan dalam firmannya:
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”. (QS. Al-Hijr : 9)
Ayat ini menunjukkan keharusan ajaran Islam yang murni yang dibawa oleh Nabi Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam pertama kali tidak akan lenyap dan tidak akan tertutupi oleh kebatilan. Karenanya Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan taufiq kepada para ulama salaf ketika itu, sehingga mulailah mereka menampakkan penamaan-penamaan syariat yang terambil dari agama Islam sendiri, berdasarkan Al-Qur`an dan As-Sunnah yang bisa membedakan antara pengikut kebenaran dengan golongan-golongan sesat  tersebut.
Imam Muhammad bin Sirin rahimahullah berkata, “Dulunya mereka tidak pernah bertanya tentang sanad. Akan tetapi setelah terjadinya fitnah, mereka pun mulai bertanya, “Sebutkan kepada kami rawi-rawi kalian!”, lalu dilihat kepada Ahlus Sunnah maka diambil haditsnya dan dilihat kepada ahli bid’ah maka tidak diambil haditsnya (1)”. (HR. Muslim dalam Muqaddimah Shahih Muslim)
Maka berikut ini kami akan mencoba menguraikan secara rinci penamaan yang Ibnu Sirin sebutkan di atas, yaitu nama Ahlussunnah atau selengkapnya: Ahlussunnah wa al-jama’ah. Dengan harapan semoga kaum muslimin bisa mengetahui siapa sebenarnya yang pantas dijadikan rujukan dalam beragama, wallahul muwaffiq.
Definisi Ahlussunnah wa al-jama’ah.
Ini adalah salah satu penamaan lain dari salaf yang maknanya sama persis dengan makna salaf yang telah kita uraikan di atas, berikut uraiannya :
1.    Secara bahasa :
Sunnah adalah jalan baik maupun jelek, lurus maupun sesat, sebagaimana dalam hadits Jabir bin ‘Abdillah Al-Bajaly radhiallahu ‘anhu dari Nabi Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam beliau bersabda :
مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً … وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً
“Barangsiapa yang membuat dalam Islam sunnah yang baik … dan barangsiapa yang membuat dalam Islam sunnah yang jelek …”. (HR. Muslim)
Adapun jama’ah secara bahasa bermakna menyatukan sesuatu yang terpecah, maka jama’ah adalah lawan kata dari perpecahan.
{Lihat : Lisanul ‘Arab (17/89) dan Mauqif Ahlussunnah wal Jama’ah (1/29-33)}
2.    Secara Istilah :
Sunnah yang diinginkan dalam penamaan ini adalah sunnah dalam artian umum yaitu Islam itu sendiri secara sempurna yang meliputi ‘aqidah, hukum, ibadah dan seluruh bagian syariat. Makna inilah yang ditunjukkan oleh kebanyakan hadits Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam, di antaranya :
1.    Hadits Anas bin Malik secara marfu’:
فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي
“Barangsiapa yang membenci sunnahku maka bukan termasuk golonganku”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
2.    Hadits ‘Irbadh bin Sariyah secara marfu’:
أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدٌ حَبَشِيٌ, فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيْرًا, فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّيْنَ الرَّاشِدِيْنَ, تَمَسَّكُوْا بِهَا وَعَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ
“Saya berwasiat kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat (kepada pemerintah) walaupun (pemerintah tersebut) seorang budak Habasyi, karena sesungguhnya barangsiapa yang tetap hidup di antara kalian maka dia akan melihat perselisihan yang sangat banyak,maka wajib atas kalian (untuk mengikuti) sunnahku dan sunnah para khulafa` yang mendapatkan hidayah dan petunjuk, berpegang teguhlah kalian dengannya serta gigitlah ia dengan gigi geraham kalian”. (HR. Imam Empat kecuali An-Nasai)
3.    Hadits Abu Hurairah secara marfu’:
يآ أَيُّهَا النَّاسُ, إِنِّي تَرَكْتُ فِيْكُمْ مَا إِنِ اعْتَصَمْتُمْ بِهِ فَلَنْ تَضِلُّوْا أَبَدًا : كِتَابَ اللهِ وَسُنَّتِي
”Wahai sekalian manusia, sesungguhnya saya telah tinggalkan untuk kaliansuatu perkara yang kalau kalian berpegang teguh kepadanya niscaya kalian tidak akan sesat selamanya ; yaitu kitab Allah dan Sunnahku”. (HR. Al-Hakim dan dishohihkan oleh Syaikh Al-Albany)
Dan makna ini pula yang disebutkan oleh para ulama, di antaranya :
Imam Al-Barbahari rahimahullah berkata di awal kitab beliau Syarhus Sunnah : “Ketahuilah sesungguhnya Islam itu adalah sunnah dan sunnah adalah islam dan tidaklah tegak salah satu dari keduanya kecuali dengan yang lainnya”.
Syaikhul Islam dalam Majmu’ Fatawa (4/180) menukil dari Imam Abul Hasan Muhammad bin Abdil Malik Al-Karkhy bahwa beliau berkata, “Ketahuilah bahwa sunnah adalah jalan Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam serta mengupayakan untuk menempuh jalannya dan ia (sunnah) ada 3 bagian: Perkataan, perbuatan dan akidah”.
Imam Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Sunnah adalah suatu jalan yang ditempuh dan jalan itu mencakup berpegang teguh terhadap apa-apa yang beliau Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam berada di atasnya dan para khalifahnya yang mendapat petunjuk berupa keyakinan, amalan dan perkataan. Inilah makna sunnah yang sempurna, karena itulah para ulama salaf terdahulu tidak menggunakan kalimat sunnah kecuali apa-apa yang meliputi seluruh hal itu. Hal ini diriwayatkan dari Al-Hasan, Al-Auza’i dan Fudhail bin ‘Iyadh”. Lihat Jami’ Al-‘Ulum wal Hikam hal 249
Dari penjelasan makna sunnah secara umum di atas akan memberikan gambaran yang jelas kepada kita tentang siapakah sebenarnya Ahlus Sunnah (pengikut sunnah) itu. Berikut beberapa perkataan para ulama dalam memberikan definisi Ahlus Sunnah :
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa (3/375) berkata, “Mereka adalah orang-orang yang berpegang teguh kepada Al-Qur’an  dan sunnah Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam dan apa-apa yang disepakati oleh orang-orang terdahulu lagi pertama dari kalangan shahabat Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik”.
Ibnu Hazm rahimahullah berkata dalam Al-Fishal (2/281), “… dan Ahlus Sunnah yang telah kami sebutkan adalah ahlul haq (pengikut kebenaran) dan selain mereka adalah ahlul bid’ah, maka ahlus sunnah mereka itulah para shahabat radhiallahu ‘anhum dan siapa saja yang menempuh jalan mereka dari orang-orang pilihan dari kalangan tabi’in kemudian ashhabul hadits (pakar hadits) dan siapa saja yang mengikuti mereka dari para ahli fiqh dari zaman ke zaman sampai hari kita ini dan orang-orang yang mengikuti mereka dari orang awwam di Timur maupun di Barat bumi rahmatullah ’alaihim“.
Dan Ibnul Jauzy  berkata dalam Talbis Iblis hal. 21, “Tidak ada keraguan bahwa pakar riwayat dan hadits yang mengikuti jejak Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam dan jejak para sahabatnya mereka itulah Ahlu Sunnah karena mereka di atas jalan yang belum terjadi perkara baru (bd’ah) padanya, karena perkara baru dan bid’ah hanyalah terjadi setelah (zaman) Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam dan para sahabatnya”.
Adapun Al-Jama’ah secara istilah, maka para ulama berbeda menjadi enam penafsiran tentang makna jama’ah yang tersebut di dalam hadits-hadits Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam, semisal:
1.    Hadits Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiallahu ‘anhu tentang perpecahan ummat, Nabi Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam bersabda :
وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ ثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَهِيَ الْجَمَاعَةُ
فِي رِوَايَةٍ : مَنْ كَانَ عَلَى مِثْلِ مَا أَنَا عَلَيْهِ الْيَوْمَ وَأَصْحَابِي

“Sesunggunya agama (ummat) ini akan terpecah menjadi 73 (kelompok),  72 di (ancam masuk ke) dalam Neraka dan satu yang didalam Surga, dia adalah Al-Jama’ah”. (HR. Ahmad dan Abu Daud dan juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu dan juga mirip dengannya dari hadits Auf bin Malik radhiallahu ‘anhu)
Dalam suatu riwayat, “(Al-Jama’ah adalah) siapa yang berada di atas seperti apa yang saya dan para shahabatku berada di atsnya”. (Hadits hasan dari seluruh jalan-jalannya)
2.    Hadits ‘Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam bersabda :
لَا يَحِلُّ دَمُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَّا بِإِحْدَى ثَلَاثٍ الثَّيِّبُ الزَّانِي وَالنَّفْسُ بِالنَّفْسِ وَالتَّارِكُ لِدِينِهِ الْمُفَارِقُ لِلْجَمَاعَةِ
“Tidak halal (menumpahkan) darah seorang muslim yang bersaksi bahwa tiada sembahan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa saya adalah Rasululullah kecuali dengan salah satu dari tiga perkara : Orang yang telah berkeluarga yang berzina, jiwa dengan jiwa dan orang yang meninggalkan agamanya dan memisahkan diri dari Al-Jama’ah”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
3.    Hadits Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma, Nabi Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam bersabda :
فَإِنَّهُ مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ شِبْرًا فَمَاتَ إِلَّا مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً
وَفِي رِوَايَةٍ لِمُسْلِمٍ : مَنْ خَرَجَ مِنْ الطَّاعَةِ وَفَارَقَ الْجَمَاعَةَ …
“… Karena sesungguhnya barangsiapa yang memisahkan diri dari Al-Jama’ah walaupun sejengkal lalu dia mati kecuali dia mati di atas bentuk matinya jahiliyah”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Dan dalam riwayat Muslim, “Barangsiapa yang keluar dari ketaatan (kepada pemerintah) dan memisahkan diri dari Al-Jama’ah …”. (dari Shahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)
Hanya saja yang perlu diketahui bahwa keenam penafsiran yang disebutkan oleh para ulama tidak ada yang saling bertentangan dan saling menafikan, bahkan semuanya menunjukkan makna Al-Jama’ah yang syar’i dalam Islam. Secara umum keenam penafsiran ini bisa dikembalikan kepada dua penafsiran sebagaimana yang diisyaratkan oleh imam Al-Khoththobi rahimahullah, yaitu :
1.    Jama’atul Adyan (Jama’ah dalam agama) yaitu pengikut kebenaran dari kalangan para shahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik dari kalangan para ulama dan selainnya, walaupun dia hanya seorang diri. Ini adalah penafsiran Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu, Imam Al-Barbary, Ibnu Katsir, ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz, Al-Bukhary, At-Tirmidzy dan lain-lainnya rahimahumullah.
Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata, “Al-Jama’ah adalah apa-apa yang sesuai dengan kebenaran walaupun engkau sendirian”.
2.    Jama’atul Abdan (Jama’ah badan) yaitu jama’ah kaum muslimin jika mereka bersepakat berkumpul di bawah satu pimpinan (Negara yang syah), dan ini adalah penafsiran Ibnu Jarir Ath-Thobary dan Ibnul Atsir rahimahumallah.
Inilah dua makna Al-Jama’ah yang tsabit dan benar dalam syari’at Islam, tidak ada makna ketiga. Lihat kitab Al-‘Uzlah karya Al-Khoththoby rahimahullah.
Dari sini kita bisa mengetahui jelasnya kebatilan pembentukan jama’ah-jama’ah baru dalam Islam, karena kalau yang mereka inginkan dengan makna jama’ah adalah makna yang pertama maka pemimpinnya dan yang wajib ditaati dan dilaksanakan perintahnya hanya satu yaitu Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam tidak ada orang kedua, dan jika mereka menginginkan dengannya makna yang kedua maka pemimpin yang wajib didengar dan ditaati serta yang berhak diberikan bai’at kepadanya juga hanyalah satu orang yaitu pemimpin Negara dalam hal ini di Indonesia adalah seorang Presiden, bukan ‘imam-imam’ yang dibentuk oleh masing-masing jama’ah, karena perbuatan ini justru merupakan pemecahbelahan ummat dan merupakan suatu bentuk perbuatan khuruj (kudeta) kepada pemerintah yang syah.
Sebagai kesimpulan maka kita katakan: Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah suatu penamaan ataupun sifat yang dimiliki oleh setiap orang yang mengikuti dengan baik jalannya Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam dan para shahabat beliau dari kalangan para ulama sampai orang-orang awwamnya ummat ini, dia bukan suatu nama organisasi atau kelompok atau jama’ah buatan orang-orang belakangan akan tetapi Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah penamaan lain dari Islam itu sendiri yang murni dari berbagai bentuk bid’ah dan penyimpangan.  Maka siapapun orangnya, di belahan bumi manapun dia berada dan apapun warna kulitnya semuanya bisa bernama dengan nama Ahlus Sunnah wal Jama’ah sepanjang dia komitmen dengan Al-Kitab dan Sunnah Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam sesuai dengan pemahaman para shahabat walaupun dia hanya seorang diri tanpa ada orang yang mengikutinya, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu.
{Lihat : Mauqif  Ahlus Sunnah wal Jama’ah (1/29-37 dan 47-54), Al-I’tishom (2/767-776) dan Mauqif Ibnu Taimiyah Minal Asy’ariyah (1/26-32)}.
_______________
(1)   Maksudnya : Sebelum terjadinya fitnah dengan terbunuhnya ‘Utsman bin ‘Affan, bila ada yang membawakan hadits dari Nabi Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam maka langsung diterima tanpa mempertanyakan asal pengambilannya. Akan tapi setelah terjadinya fitnah, kaum musliminpun sadar bahwa di antara mereka ada orang-orang yang menghendaki kerusakan Islam,  sehingga ketika ada yang membawakan hadits dari Nabi Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam mereka mulai bertanya dari mana dia mendengar hadits itu. Bila nama yang dia sebutkan adalah ahlus sunnah maka baru diterima haditsnya dan demikian pula sebaliknya.


Kamis, 17 Februari 2011

Wajibnya Taat Kepada Penguasa

 Penulis : Ustadz Hammad Abu Muawiyah
Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ
“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri (penguasa) di antara kalian.” (QS. An-Nisa`: 59)
Dari Ibnu Umar radhiallahu anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda:
عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ إِلَّا أَنْ يُؤْمَرَ بِمَعْصِيَةٍ فَإِنْ أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلَا سَمْعَ وَلَا طَاعَةَ
“Wajib atas setiap muslim untuk mendengar dan taat (kepada penguasa), baik pada sesuatu yang dia suka atau benci. Akan tetapi jika dia diperintahkan untuk bermaksiat, maka tidak ada kewajiban baginya untuk mendengar dan taat.” (QS. Al-Bukhari no. 7144 dan Muslim no. 1839)
Dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiallahu anhuma dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
وَمَنْ بَايَعَ إِمَامًا فَأَعْطَاهُ صَفْقَةَ يَدِهِ وَثَمَرَةَ قَلْبِهِ فَلْيُطِعْهُ إِنْ اسْتَطَاعَ فَإِنْ جَاءَ آخَرُ يُنَازِعُهُ فَاضْرِبُوا عُنُقَ الْآخَرِ
“Dan barangsiapa yang berbaiat kepada seorang pemimpin (penguasa) lalu bersalaman dengannya (sebagai tanda baiat) dan menyerahkan ketundukannya, maka hendaklah dia mematuhi pemimpin itu semampunya. Jika ada yang lain datang untuk mengganggu pemimpinya (memberontak), penggallah leher yang datang tersebut.” (HR. Muslim no. 1844)
Penjelasan ringkas:
Ketaatan kepada penguasa merupakan salah satu dari ushul aqidah ahlissunnah wal jamaah, yang jika diselisihi maka akan mengeluarkan pelakunya dari ahlussunnah. Hal ini ditunjukkan oleh amalan dan ucapan para ulama salaf yang mana mereka menyebutkan permasalahan ini dalam kitab-kitab aqidah ahlussunnah yang mereka tulis.
Imam Ahmad rahimahullah berkata dalam risalah Ushul As-Sunnah, “Wajib untuk mendengar dan taat kepada para pemimpin dan amirul mukminin, baik dia orang yang baik maupun orang yang jahat.”
Imam Ibnu Abi Hatim berkata dalam risalah Ashlu As-Sunnah atau dikenal juga dengan nama I’tiqad Ad-Din, “Saya bertanya kepada ayahku (Abu Hatim) dan juga Abu Zur’ah mengenai mazhab ahlussunnah dalam masalah pokok-pokok agama, dan mazhab yang keduanya mendapati para ulama di berbagai negeri berada di atasnya, dan mazhab yang mereka berdua sendiri yakini. Maka keduanya berkata, “Kami menjumpai para ulama di berbagai negeri, di Hijaz, di Irak, di Mesir, di Syam, dan di Yaman. Maka di antara mazhab mereka adalah …. Kami mendengar dan taat kepada pimpinan yang Allah serahkan urusan kami kepadanya, dan kami tidak melepaskan diri dari ketaatan kepadanya.”
Kami katakan: Maka ini jelas menunjukkan bahwa aqidah wajibnya taat kepada penguasa ini merupakan aqidah dari seluruh ulama ahlussunnah di berbagai negeri. Dan penyebutan negeri-negeri pada ucapan di atas tidak menunjukkan pembatasan, akan tetapi memang demikianlah akidah para ulama ahlussunnah di berbagai negeri pada setiap zaman.
Imam Ath-Thahawi berkata dalam kitab Al-Aqidah Ath-Thahawiah, “Kami memandang bahwa menaati penguasa yang merupakan bagian dari ketaatan kepada Allah Azz wa Jalla adalah suatu kewajiban, selama mereka tidak memerintahkan kepada kemaksiatan. Kami mendoakan mereka agar mendapatkan kesalehan dan kebaikan.”
Al-Barbahari rahimahullah berkata dalam Syarh As-Sunnah, “Wajib untuk mendengar dan taat kepada para pemimpin dalam perkara yang dicintai dan diridhai oleh Allah. Barangsiapa yang memegang tampuk khilafah dimana seluruh manusia sepakat menerimanya dan meridhainya, maka dia dinamakan amirul mukminin. Tidak halal bagi siapapun untuk tinggal satu malam dalam keadaan dia meyakini bahwa dirinya tidak memiliki pemimpin, baik pemimpin itu adalah orang yang saleh maupun orang yang jahat.”
Mufaffaquddin Ibnu Qudamah rahimahullah berkata dalam Lum’ah Al-I’tiqad, “Termasuk sunnah (tuntunan Islam) adalah mendengar dan taat kepada para penguasa dan pimpinan (amir) kaum muslimin, baik penguasa yang saleh maupun yang jahat. Selama dia tidak memerintahkan kemaksiatan, karena tidak ada ketaatan kepada seorangpun dalam bermaksiat kepada Allah.”
Imam Al-Lalaka`i dalam Syarh Ushul I’tiqad Ahlussunnah wal Jamaah menyebutkan aqidah beberapa orang imam ahlissunnah dalam permasalahan ini di antaranya:
1.    Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah.
Beliau berkata, “Wajib untuk bersabar di bawah kepemimpinan penguasa, baik dia berbuat baik maupun berbuat jahat.
2.    Ali bin Abdillah Al-Madini rahimahullah
Beliau berkata, “Tidak halal bagi seorangpun yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk tinggal semalampun kecuali dalam keadaan dia mempunyai pimpinan, baik pimpinan itu saleh maupun jahat
3.    Imam Muhammad bin Ismail Al-Bukhari rahimahullah
Beliau berkata, “Saya telah berjumpa dengan 1000 orang lebih ulama, di Hijaz, Makkah, Madinah, Kufah, Bashrah, Wasith, Baghdad, Syam, dan Mesir. Saya berjumpa dengan mereka berulang-ulang kali dari generasi ke generasi, dari generasi ke generasi.” Kemudian beliau menyebutkan sebagian kecil dari nama-nama para ulama tersebut, lalu kembali berkata. “Maka saya tidak pernah melihat seorangpun di antara mereka yang berbeda pendapat dalam masalah-masalah berikut: … Dan kami tidak akan mengganggu penguasa pada urusannya, berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam, “Ada 3 perkara yang hati seorang muslim tidak akan dengki terhadapnya: Mengikhlaskan amalan untuk Allah, menaati penguasa, dan komitmen dengan al-jamaah, karena doa kepada penguasa akan mengenai juga rakyatnya.”
4.    Abdurrahman bin Abu Hatim Muhammad bin Idris.
Beliau berkata, “Kami mendengar dan taat kepada kepada orang yang Allah Azza wa Jalla serahkan urusan kami kepadanya.”
5.    Sahl bin Abdillah At-Tasturi.
Beliau pernah ditanya, “Kapan seseorang mengetahui kalau dirinya berada di atas sunnah? Beliau menjawab, “Jika dia mengetahui kalau dalam dirinya adal 10 perkara.” Di antara yang beliau sebutkan adalah, “Tidak meninggalkan shalat berjamaah di belakang setiap penguasa, penguasa yang curang maupun yang adil.
Maka semua dalil-dalil di atas ditambah dengan kesepakatan para ulama salaf di berbagai zaman dan tempat, menunjukkan bahwa ketaatan kepada pemerintah bukanlah masalah kecil atau masalah sampingan dalam agama. Bahkan dia merupakan salah satu tonggak tegaknya agama, karena tanpa adanya ketaatan kepada penguasa maka yang ada adalah kerusakan dimana-mana, dan keadaan yang kacau jelas mempengaruhi keberagamaan setiap orang.
Karenanya, kebiasaan untuk tidak taat kepada penguasa bukanlah kebiasaan kaum muslimin. Bahkan kebiasaan ini merupakan kebiasaan orang-orang musyrikin jahiliah sebelum terutusnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab berkata dalam Masa`il Al-Jahiliah, “Perilaku jahiliah yang ketiga: Mereka menganggap bahwa menyelisihi penguasa dan tidak taat kepadanya adalah suatu keutamaan, sementara mendengar dan taat kepadnya adalah kerendahan dan kehinaan. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyelisihi mereka, dan beliau memerintahkan untuk mendengar dan taat kepadanya serta menasehatinya. Beliau sangat tegas memerintahkan hal tersebut, betul-betul menjelaskannya secara gamblang, dan beliau selalu mengulang-ulanginya.”
Walaupun demikian keadaannya, Allah Ta’ala dan Rasul-Nya memberikan pembatasan dalam menaati pemerintah sebagaimana diberikannya pembatasan dalam menaati ulama. Karena seluruh manusia sepandai dan sekuat apapun dia pasti akan memerintahkan kesalahan, kecuali para nabi dan rasul. Karenanya dalil-dalil di atas, selain memerintahkan untuk taat kepada penguasa, dalil tersebut juga menegaskan bahwa ketaatan kepada mereka hanya terbatas jika mereka tidak memerintahkan kemaksiatan.
Imam Ibnu Abdil Izz dalam Syarh Ath-Thahawiah hal. 381 berkata menjelaskan ayat dalam surah An-Nisa` di atas, “Kenapa Allah berfirman, “Dan taatilah,” tapi tidak berfirman, “Dan taatilah ulil amri di antara kalian?” Hal itu karena pemerintah tidak berdiri sendiri dalam hal ditaati, akan tetapi mereka hanya ditaati pada perkara yang merupakan ketaatan kepada Alah dan Rasul-Nya. Allah mengulangi perintah (taatilah) pada Ar-Rasul karena siapa saja yang menaati Ar-Rasul maka sungguh dia telah taat kepada Allah, dan karena Ar-Rasul tidaklah pernah memerintahkan ketidaktaatan kepada Allah, bahkan beliau ma’shum dalam hal itu. Adapun pemerintah, maka terkadang dia memerintahkan ketidaktaatan kepada Allah. Karenanya dia tidak ditaati kecuali jika perintahnya merupakan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.”
Adapun hadits Ibnu Umar di atas maka sangat tegas menunjukkan apa yang kita sebutkan di atas. Hanya saja di sini ada satu catatan penting yang harus digarisbawahi, yaitu: Bahwa sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Akan tetapi jika dia diperintahkan untuk bermaksiat, maka tidak ada kewajiban baginya untuk mendengar dan taat.” TIDAKLAH menunjukkan bahwa ketaatan kepada pemerintah akan gugur selama-lamanya kapan sekali saja mereka memerintahkan kemaksiatan, tidak sama sekali. Karena hal itu akan bertentangan dengan dalil-dalil lain yang memerintahkan untuk selalu taat kepada pemerintah selama perintahnya bukan kemaksiatan. Akan tetapi yang dimaksud dalam hadits itu adalah bahwa kapan pemerintah memerintahkan kemaksiatan maka tidak boleh ditaati, akan tetapi jika setelah itu dia kembali memerintahkan kebaikan, maka kita kembali wajib untuk menaatinya.
Bagaimana dengan perintah penguasa yang sifatnya bukan ketaatan dan bukan pula maksiat? Misalnya peraturan atau keputusan pemerintah yang dibuat dalam masalah duniawiah.
Berdasarkan semua dalil di atas maka kita tetap wajib menaatinya. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hanya mengecualikan satu keadaan untuk kita boleh tidak taat kepada mereka, yaitu jika perintah mereka adalah kemaksiatan. Artinya, perintah penguasa selain dari kemasiatan tetap wajib untuk kita dengarkan, terlebih lagi jika perintah atau keputusan itu dibuat untuk kemaslahatan kaum muslimin itu sendiri. Wallahu a’lam